Tampilkan postingan dengan label umroh nyaman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label umroh nyaman. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 Desember 2016

Rindu Baitullah.. Ku Ingin Kembali..


Jelang subuh merambati
Memasuki halamanmu terbayang Masjidil Haram Makkah Al-Mukarramah mendera-dera
Di depan Ka'bah pertama kali kulantunkan do'a untukmu berjuta deras air mata mengalir
Tatkala dahi bersujud di permaidani masjid-Mu
Terasa gigilan yang amat sangat
Sebab menahan rasa haru dan syukur
Subhanallah...
Hanya Engkau ya Allah, yang mengetahui setiap apa yang tersembunyi di balik hati ini
Yang tak mampu tertuang dengan sebatas kata
Rindu Baitullah

Setiap kali azan berkumandang di bumi penuh berkah
Setiap kali kaki berjalan memenuhi
Tiada lelah seakan rindu bertemu dengan-Mu
Menjadi aliran energi kehidupan tak bertepi
Subhanallah...
Maha Suci Allah Yang Menciptakan Alam Duniawi...
Menumbuhkan rindu berapi-api akan Tanah Suci
Rindu ingin selalu beribadah tiada henti
Rindu melantunkan do'a dan mengadu pada-mu.
Menangis dan bermunajat kehadirat-Mu

Rindu pada harumnya Ka'bah yang mulia
Ingin bertawaf memuliakanmu
Rindu pada Safa Dan Marwa yang mengajarkan makna beribu pengorbanan Siti Hajar dan Nabi Ismail
Rindu air Zam-Zam-Mu yang mampu mengusir dahaga berjuta tamu-Mu yang datang ke rumah mulia-Mu

Ya Allah... Duhai  Ar-Rahmaan, Ar-Rahiim, Al-Maalik, Al-Qudduus, As-Salaam...

Batinku bagai dimensi tak berbingkai
Saat diriku bersujud hina di hadapan Ka’bah...
Begitu dekat terasa dengan-Mu
Untaian do'a dengan menangis di Multazam, Tempat paling mustajab
Tempat semua doa akan terjawab
Dalam balutan kain putih
Bersama jiwa-jiwa lain yang merindu pada-Mu
Yang datang dengan totalitas hati jiwa dan raga
Untuk menjadi tamu-Mu

Dengan hati bergetar, lisan yang berucap ‘Labbaik Allaahumma labbaik, labbaika laa syariikalaka labbaik. Innalhamda wanni’mata, lakawal mulk, laa syariikalak.’ MenujuMu...Menyahut seruanMu.. Berakhir di pelukanMu...
Subhanallah...

Ya Allah,  Engkau mengundangku ke rumah agung-Mu
Kiblat umat muslim sepenjuru dunia
Mungkinkah Engkau memperkenankan aku datang bertamu lagi
Pada diri yang penuh peluh noda dan alfa
Dengan segenap kerinduan yang menggunung Aku akan datang lagi, dengan izin-Mu
Meski harus tertatih...
Meski harus menyeret langkah
Dengan serpihan cinta yang kurekatkan rapat-rapat
Aku ingin kembali
Menjadi tamu-Mu

Ya Allah, ya Robbi...
Betapa rindu aku ingin kembali...
Aku bagaikan petualang yang telah lama tidak pulang dan merasa ingin kembali...
Betapa aku berharap, kerinduan ini cukup untuk menghantarkanku ke Mekkah dan Madinah kembali
Tempat  Rasulullah, sang habibullah berawal dan berakhir...
Menyampaikan salam kepada Rasulullah di Raudhah...
Menyungkurkan taubatku di hadapan kesaksian Ka’bah
Tempat cahaya keislaman memancar dan menjadi ‘rahmatan lil ‘aalamin’...
Tempat terindah untuk dijadikan kiblat di setiap langkah mereka yang mengaku hamba Allah...
Dengan lantunan ayat suci qiyamullail yang menghidup nadi imanku...
Dengan salawat kerinduan pada kekasihMu yang mendamai ragaku...

Aku ingin bertemu kembali ya Rabbul ‘Izzati...
‘Labbaik Allaahumma labbaik, labbaika laa syariikalaka labbaik. Innalhamda wanni’mata, lakawal mulk, laa syariikalak.’ MenujuMu...Menyahut seruanMu.. Berakhir di pelukanMu...

Hingga kini masih kurasa rindu itu
Pada Tanah Haram bumi penuh berkah-Mu
Semoga Allah mengizinkan untuk datang bertamu
Sebelum badan dikandung tanah...

"Wahai Tuhan kami! Terimalah daripada kami (amal kami); sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mendengar, lagi Maha mengetahui [al-Quran, al-Baqarah:127]

Ya Allah, izinkan aku kembali...

oleh : Muthi' Masfu'ah Ma'ruf  (Ketua Perempuan Penulis Gagas Citra Media dan Rumah Kreatif Salsabila)

Rabu, 21 Desember 2016

Siti Hajar, Wanita Teladan yang pertama tinggal di Masjidil Haram

Siti Hajar adalah istri Nabi Ibrahim dan ibu dari Nabi Ismail as. Ia merupakan seorang wanita yang dihormati dalam agama Islam. Sebagaimana dikemukakan dalam kisah sebelumnya, bahwa Hajar pada awalnya adalah seorang pelayanan yang dihadiahkan Raja Firaun kepada Sarah, istri nabiyullah Ibrahim as. Dalam sejarah disebutkan bahwa Hajar merupakan seorang tokoh wanita yang mulia, ibu Nabi yang sabar, dan istri Nabi yang merupakan satu umat, kendati sendirian, ia wanita mulia bagi Ibrahim as.

Kekasih Allah, Ibrahim as. sangat merindukan anak dan keturunan. Beliau berdoa kepada Allah swt, baik dengan cara pelan-pelan maupun terang-terangan, agar Allah memberi beliau anak yang saleh. Doanya ini kemudian direkam dalam al-Quran: “Ya Tuhan kami, berikanlah kepada kami keturunan yang saleh.”
Untuk menjawab doa Ibrahim as., Allah menakdirkan Ibrahim bertemu dengan Hajar, yang kemudian menjadi Ibu Nabi Ismail as., ibu orang-orang Arab, ibu umat terbaik yang dikeluarkan untuk umat manusia. Hajar dihormati sebagai ibu pemimpin yang sangat penting, karena melalui Nabi Ismail as., ia menurunkan Nabi Muhammad SAW.

Di rumah Ibrahim, Hajar mendengar apa saja yang dikatakan dan didakwahkan Ibrahim. Sungguh ucapan Ibrahim as. adalah ucapan indah yang masuk ke dalam jiwa dan meninggalkan bekas yang baik di hatinya. Hajar merasa rohnya bersinar dengan sinar Ilahi. Ia merupakan wanita yang sangat tulus kepada majikannya; mencintai majikan wanitanya, mengabdi kepadanya dengan sempurna, melihat banyak hal pada diri Sarah yang tidak ia lihat pada wanita-wanita lain.

Suatu saat, Hajar mendapati Sarah sedang berdiri mengerjakan shalat, ia mendengar Sarah membaca ungkapan yang tidak ia pahami. Hanya saja, Hajar merasa bahwa ada percikan cahaya yang jatuh berguguran ke dalam jiwanya, ia merasa bahwa kedamaian merasuk ke dalam hatinya. Setelah itu, dengan santun dan malu, Hajar menghampiri dan bertanya kepada majikannya yang ahli ibadah, wanita taat. Ia bertanya: “Majikanku, Tuhan apa yang engkau sembah?” Kemudian Sarah berkata kepada Hajar dengan keimanan orang-orang yang tekun beribadah dan cahaya keyakinan: “Wahai wanita yang baik, kami menyembah Allah, yang tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Dia. Dia adalah pencipta langit dan bumi, Tuhan segala sesuatu, Maha Pencipta, dan Pencipta segala sesuatu, Dia-lah yang menghidupkan dan yang mematikan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Sarah mulai menanam benih-benih iman dan bibit-bibit keyakinan pada diri Hajar, yang jiwanya merespons isyarat-isyarat iman dari Sarah. Ia menyampaikan apa-apa yang didakwahkan oleh suaminya, Ibrahim as. Dari situlah cahaya iman benar-benar menutupi hati Hajar. Hajar merasa bahwa sentuhan cahaya halus menembus jiwanya dan menyentuh hatinya, ia merasa dekat dengan sumber-sumber kebaikan dan mata air cahaya. Sekarang ia merasakan kehangatan iman dan keagungan dalam berhubungan dengan Allah swt.
Singkat cerita, setelah Hajar melahirkan Ismail, Sarah mulai merasa cemburu, ia meminta Ibrahim untuk membawa mereka pergi darinya. Allah mengungkapkan kepada Ibrahim bahwa ia harus mengambil Hajar dan Ismail, dan membawa mereka ke Mekah. Akhirnya, Nabi Ibrahim pun membawa Hajar dan Ismail, namun kemudian meninggalkan mereka, dan kembali ke Palestina. Sebelum Nabi Ibrahim kembali ke Palestina, Hajar bertanya kepadanya: “Untuk siapa kau meninggalkan kami di lembah ini dan dibiarkan begitu saja? Apakah Allah memerintahkan Anda untuk melakukan hal ini?” Nabi Ibrahim menjawab: “Ya”. Hajar kemudian berkata: “Kalau begitu, Allah tidak akan menyebabkan kita hilang.”

Dalam kondisi seperti itu, Nabi Ibrahim berserah diri kepada perintah Tuhannya, dan ia tetap bersabar menanggung perpisahan dari istri dan anaknya. Kemudian ia berdoa: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami, (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur” (QS. Ibrahim: 37).

Karena kelangkaan air di padang gurun, ibu dan anak itu menderita kehausan. Siti Hajar berlari antara bukit Shafa dan Marwah untuk mencari air untuk anaknya. Setelah tujuh kali berputar di antara dua bukit, malaikat muncul di hadapannya. Malaikat membantu dan mengatakan kepadanya bahwa Tuhan telah mendengar tangisan Ismail, dan Dia akan menyediakan mereka air. Pada saat itu, Allah mengeluarkan air dari tanah di mana tumit Ismail berbaring. Mata air itu kemudian bernama zam-zam, dan menjadi sumber air suci.
Peristiwa yang dijalaninya antara Bukit Shafa dan Marwah dikenang oleh umat Islam saat mereka menunaikan ibadah haji, yakni yang dinamakan dengan sya’i (berlari-lari kecil sebanyak tujuh kali antara bukit Shafa dan Marwah). Kegiatan ini merupakan bagian integral dari ibadah Haji dan Umrah, yang melambangkan Hajar mencari air untuk diberikan kepada putranya, Ismail.

Kegiatan ritual berlari kecil tersebut dimulai dari Bukit Shafa yang terletak sekitar setengah mil dari Kakbah. Sementara Marwah terletak sekitar 100 m (330 kaki) dari Kakbah. Jarak antara Shafa dan Marwah adalah sekitar 450 m (1.480 kaki), sehingga tujuh kali putaran berjumlah sekitar 3,15 km (1,96 mil). Itulah bentuk perjuangan seorang ibu demi keselamatan anaknya dari kehausan dan kelaparan di padang pasir. Atas kekuasaan Allah, air zam-zam ini tidak pernah habis dan tidak akan pernah habis selamanya hingga hari kiamat nanti.[Sumber Heri Gunawan, S.Pd.I., M.Ag.]

Senin, 12 Desember 2016

Bilal, Sang Muadzin Rasulullah saw

Bilal, Sang Muadzzin

Kesedihan sebab ditinggal wafat oleh Rasulullah saw terus mengendap di hati Bilal. Dan kesedihan itu yang mendorongnya meninggalkan Madinah, dia bersama rombongan pasukan Fath Islamy berangkat menuju Syam, dan kemudian tinggal di Homs, Syria.

Sudah lama Bilal tak mengunjungi Madinah, hingga sampai pada suatu malam, Rasulullah hadir dalam mimpi Bilal, dan menegurnya, "Ya Bilal, Wa maa hadzal jafa ? Hai Bilal, mengapa engkau tak mengunjungiku ? Mengapa sampai seperti ini ?"
Image result for gambar masjid nabawi
Makam Rasulullah saw
Bilal pun bangun terperanjat, segera ia mempersiapkan perjalanan ke Madinah untuk berziarah ke makam Rasulullah. Sekian tahun sudah dia meninggalkan Rasulullah. Setiba di Madinah, Bilal bersedu sedan melepas rasa rindunya pada Rasulullah, kepada Sang Kekasih.

Saat itu, dua pemuda yang telah beranjak dewasa mendekatinya. Keduanya adalah cucu Rasulullah Hasan dan Husein. Dengan mata sembab oleh tangis, Bilal yang kian beranjak tua itupun memeluk kedua cucu Rasulullah tersebut.

Salah satu dari keduanya berkata kepada Bilal, "Paman, maukah engkau sekali saja mengumandangkan adzan untuk kami ? Kami ingin mengenang kakek kami."

Ketika itu, Umar bin Khattab yang saat itu telah menjadi Khalifah juga sedang melihat pemandangan mengharukan tersebut, dan beliaupun juga memohon kepada Bilal untuk mengumandangkan adzan, meski sekali saja.

Bilal pun memenuhi permintaan itu.

Saat waktu shalat tiba, dia naik pada tempat dahulu biasa dia adzan pada masa Rasulullah masih hidup.

Mulailah dia mengumandangkan adzan.
Related image
Raudhah
Saat lafadz Allahu Akbar dikumandangkan olehnya, mendadak seluruh Madinah senyap, segala aktifitas terhenti, semua terkejut, suara yang telah bertahun - tahun hilang, suara yang mengingatkan pada sosok Nan Agung, suara yang begitu dirindukan itu telah kembali.

Ketika Bilal meneriakkan kata 'Asyhadu an laa ilaha illallah', seluruh isi kota madinah berlarian ke arah suara itu sambil berteriak, bahkan para gadis dalam pingitan mereka pun keluar.

Dan saat bilal mengumandangkan 'Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah', Madinah pecah oleh tangisan dan ratapan yang sangat memilukan. Semua menangis, teringat masa-masa indah bersama Rasulullah, Umar bin Khattab yang paling keras tangisnya. Bahkan Bilal sendiri pun tak sanggup meneruskan adzannya, lidahnya tercekat oleh air mata yang berderai. Hari itu madinah mengenang masa saat masih ada Rasulullah diantara mereka.

Hari itu adalah adzan pertama dan terakhir bagi Bilal setelah Rasulullah wafat. Adzan yang telah menerbitkan rasa kerinduan penduduk Madinah kepada Rasulullah. Adzan yang tak bisa dirampungkan.

Dan pada saat itu, Kota Madinah banjir oleh air mata kerinduan kepada Rasulullah. 

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ 

“Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad kama shollaita ‘ala Ibrahim wa ‘ala ali Ibrahim, innaka hamidun majid. Allahumma barik ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad kama barokta ‘ala Ibrahim wa ‘ala ali Ibrahim, innaka hamidun majid.” 

[Ya Allah, berilah shalawat kepada Muhammad dan kerabatnya karena engkau memberi shalawat kepada Ibrahim dan kerabatnya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Allah, berilah keberkahan kepada Muhammad dan kerabatnya karena engkau memberi keberkahan kepada Ibrahim dan kerabatnya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia].

Rabu, 16 November 2016

Menag : Alhamdulillah Raja Salman Batalkan Biaya Visa Haji dan Umrah

Pemerintah Arab Saudi membatalkan kebijakan penerapan visa haji dan umrah. Menteri Agama RI Lukman Hakim Saifuddin mengapresiasi hal ini.

"Alhamdulillah, Raja Salman (Saudi Arabia) batalkan biaya visa haji & umrah," tulis Lukman lewat akun Twitter-nya @lukmansaifuddin seperti dikutip dari situs kemenag, Kamis (17/11/2016).
Dikutip dari situs resmi Kementerian Agama, pengumuman pembatalan ini resmi disampaikan Raja Salman dan diwartakan oleh seluruh media di Arab Saudi.
Lukman mengapresiasi pembatalan kebijakan penerapan visa haji dan umrah yang diberlakukan pemerintah Arab Saudi dua bulan terakhir ini. Kebijakan baru ini diharapkan dia akan mempermudah jemaah Indonesia yang akan beribadah ke Tanah Suci.

"Kita semua bersyukur dengan pembatalan pengenaan biaya visa bagi jemaah haji dan umrah. Kami mengapresiasi kebijakan tersebut karena tidak akan menjadi kendala bagi mereka yang akan menunaikan ibadah ke Tanah Suci," kata Lukman.

Senada dengan Menag, Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah Abdul Djamil juga bersyukur dengan adanya pembatalan kebijakan ini. Menurutnya, keputusan itu sudah sesuai dengan harapan negara pengirim jemaah haji dan umrah.

"Awal November, menteri agama bersurat kepada pemerintah Kerajaan Arab Saudi untuk mengecualikan jemaah umrah dari ketentuan membayar 2.000 SAR," ucapnya. (bar/aan)

Selasa, 15 November 2016

Panduan Ibadah Umroh sesuai Sunnah




Pertama:

Jika seseorang akan melaksanakan umrah, dianjurkan untuk mempersiapkan diri sebelum berihram dengan mandi sebagaimana seorang yang mandi junub, memakai wangi-wangian yang terbaik jika ada dan memakai pakaian ihram.

Kedua:

Pakaian ihram bagi laki-laki berupa dua lembar kain ihran yang berfungsi sebagai sarung dan penutup pundak. Adapun bagi wanita, ia memakai pakaian yang telah disyari’atkan yang menutupi seluruh tubuhnya. Namun tidak dibenarkan memakai cadar/ niqab (penutup wajahnya) dan tidak dibolehkan memakai sarung tangan.

Ketiga:

Berihram dari miqat untuk dengan mengucapkan:

لَبَّيْكَ عُمْرَةً

“labbaik ‘umroh” (aku memenuhi panggilan-Mu untuk menunaikan ibadah umrah).

Keempat:

Jika khawatir tidak dapat menyelesaikan umrah karena sakit atau adanya penghalang lain, maka dibolehkan mengucapkan persyaratan setelah mengucapkan kalimat di atas dengan mengatakan,

اللَّهُمَّ مَحِلِّي حَيْثُ حَبَسْتَنِي

“Allahumma mahilli haitsu habastani” (Ya Allah, tempat tahallul di mana saja Engkau menahanku).

Dengan mengucapkan persyaratan ini—baik dalam umrah maupun ketika haji–, jika seseorang terhalang untuk menyempurnakan manasiknya, maka dia diperbolehkan bertahallalul dan tidak wajib membayar dam (menyembelih seekor kambing).

Kelima:

Tidak ada alat khusus untuk berihram, namun jika bertepatan dengan waktu shalat wajib, maka shalatlah lalu berihram setelah shalat.

Keenam:

Setelah mengucapkan “talbiah umrah” (pada poin ketiga), dilanjutkan dengan membaca dan memperbanyak talbiah berikut ini, sambil mengeraskan suara bagi laki-laki dan lirih bagi perempuan hingga tiba di Makkah:

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ ، لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَك لَبَّيْكَ ، إنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَك وَالْمُلْكَ لَا شَرِيكَ لَك

“Labbaik Allahumma labbaik. Labbaik laa syariika laka labbaik. Innalhamda wan ni’mata, laka wal mulk, laa syariika lak”. (Aku menjawab panggilan-Mu ya Allah, aku menjawab panggilan-Mu, aku menjawab panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu,  aku menjawab panggilan-Mu. Sesungguhnya segala pujian, kenikmatan dan kekuasaan hanya milik-Mu, tiada sekutu bagi-Mu).

Ketujuh:

Jika memungkinkan, seseorang dianjurkan untuk mandi sebelum masuk kota Makkah.

Kedelapan:

Masuk Masjidil Haram dengan mendahulukan kaki kanan sambil membaca doa masuk masjid:

اللَّهُمَّ افْتَحْ لِى أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ.

“Allahummaf-tahlii abwaaba rohmatik” (Ya Allah, bukakanlah untukku pintu-pintu rahmat-Mu).[1]

Kesembilan:

Menuju ke Hajar Aswad, lalu menghadapnya sambil membaca “Allahu akbar” atau “Bismillah Allahu akbar” lalu mengusapnya dengan tangan kanan dan menciumnya. Jika tidak memungkinkan untuk menciumnya, maka cukup dengan mengusapnya, lalu mencium tangan yang mengusap hajar Aswad. Jika tidak memungkinkan untuk mengusapnya, maka cukup dengan memberi isyarat kepadanya dengan tangan, namun tidak mencium tangan yang memberi isyarat. Ini dilakukan pada setiap putaran thawaf.

Kesepuluh:

Kemudian, memulai thawaf umrah 7 putaran, dimulai dari Hajar Aswad dan berakhir di Hajar Aswad pula. Dan disunnahkan berlari-lari kecil pada 3 putaran pertama dan berjalan biasa pada 4 putaran terakhir.

Kesebelas:

Disunnahkan pula mengusap Rukun Yamani pada setiap putaran thawaf. Namun tidak dianjurkan mencium rukun Yamani. Dan apabila tidak memungkinkan untuk mengusapnya, maka tidak perlu memberi isyarat dengan tangan.

Keduabelas:

Ketika berada di antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad, disunnahkan membaca,

رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Robbana aatina fid dunya hasanah, wa fil aakhiroti hasanah wa qina ‘adzaban naar” (Ya Rabb kami, karuniakanlah pada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta selamatkanlah kami dari siksa neraka). (QS. Al Baqarah: 201)

Ketigabelas:

Tidak ada dzikir atau bacaan tertentu pada waktu thawaf, selain yang disebutkan pada no. 12. Dan seseorang yang thawaf boleh membaca Al Qur’an atau do’a dan dzikir yang ia suka.

Keempatbelas:

Setelah thawaf, menutup kedua pundaknya, lalu menuju ke makam Ibrahim sambil membaca,

وَاتَّخِذُوا مِنْ مَقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى

“Wattakhodzu mim maqoomi ibroohiima musholla” (Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat) (QS. Al Baqarah: 125).

Kelimabelas:

Shalat sunnah thawaf dua raka’at di belakang Maqam Ibrahim[2], pada rakaat pertama setelah membaca surat Al Fatihah, membaca surat Al Kaafirun dan pada raka’at kedua setelah membaca Al Fatihah, membaca surat Al Ikhlas.[3]

Keenambelas:

Setelah shalat disunnahkan minum air zam-zam dan menyirami kepada dengannya.

Ketujuhbelas:

Kembali ke Hajar Aswad, bertakbir, lalu mengusap dan menciumnya jika hal itu memungkinkan atau mengusapnya atau memberi isyarat kepadanya.

Sa’i Umrah

Kedelapanbelas:

Kemudian, menuju ke Bukit Shafa untuk melaksanakan sa’i umrah dan jika telah mendekati Shafa, membaca,

إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ

“Innash shafaa wal marwata min sya’airillah”  (Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syiar Allah) (QS. Al Baqarah: 158).

Lalu mengucapan,

نَبْدَأُ بِمَا بَدَأَ اللَّهُ بِهِ

“Nabda-u bimaa bada-allah bih”.

Kesembilanbelas:

Menaiki bukit Shafa, lalu menghadap ke arah Ka’bah hingga melihatnya—jika hal itu memungkinkan—, kemudian membaca:

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ  (3x)

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِى وَيُمِيتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ أَنْجَزَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ

“Allah Mahabesar, Allah Mahabesar, Allah Mahabesar. (3x)

Tiada sesembahan yang berhak disembah kecuali hanya Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya lah segala kerajaan dan segala pujian untuk-Nya. Dia yang menghidupkan dan yang mematikan. Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.

Tiada sesembahan yang berhak disembah kecuali hanya Allah semata. Dialah yang telah melaksanakan janji-Nya, menolong hamba-Nya dan mengalahkan tentara sekutu dengan sendirian.”[4]

Keduapuluh:

Bacaan ini diulang tiga kali dan berdoa di antara pengulangan-pengulangan itu dengan do’a apa saja yang dikehendaki.

Keduapuluhsatu:

Lalu turun dari Shafa dan berjalan menuju ke Marwah.

Keduapuluhdua:

Disunnahkan berlari-lari kecil dengan cepat dan sungguh-sungguh di antara dua tanda lampu hijau yang beada di Mas’a (tempat sa’i) bagi laki-laki, lalu berjalan biasa menuju Marwah dan menaikinya.

Keduapuluhtiga:

Setibanya di Marwah, kerjakanlah apa-apa yang dikerjakan di Shafa, yaitu menghadap kiblat, bertakbir, membaca dzikir pada no. 19 dan berdo’a dengan do’a apa saja yang dikehendaki, perjalanan (dari Shafa ke Marwah) dihitung satu putaran.

Keduapuluhempat:

Kemudian turunlah, lalu menuju ke Shafa dengan berjalan di tempat yang ditentukan untuk berjalan dan berlari bagi laki-laki di tempat yang ditentukan untuk berlari, lalu naik ke Shafa dan lakukan seperti semula, dengan demikian terhitung dua putaran.

Keduapuluhlima:

Lakukanlah hal ini sampai tujuh kali dengan berakhir di Marwah.

Keduapuluhenam:

Ketika sa’i, tidak ada dzikir-dzikir tertentu, maka boleh berdzikir, berdo’a, atau membaca bacaan-bacaan yang dikehendaki.

Keduapuluhtujuh:

Jika membaca do’a ini:

اللَّهُمَّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ الأَعَزُّ الأَكْرَمُ

“Allahummaghfirli warham wa antal a’azzul akrom” (Ya Rabbku, ampuni dan rahmatilah aku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa dan Maha Pemurah), tidaklah mengapa  karena telah diriwayatkan dari ‘Abdullah bin Mas’ud dan ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwasanya mereka membacanya ketika sa’i.

Keduapuluhdelapan:

Setelah sa’i, maka bertahallul dengan memendekkan seluruh rambut kepala atau mencukur gundul, dan yang mencukur gundul itulah yang lebih afdhal. Adapun bagi wanita, cukup dengan memotong rambutnya sepanjang satu ruas jari.

Keduapuluhsembilan:

Setelah memotong atau mencukur rambut, maka berakhirlah ibadah umrah dan Anda telah dibolehkan untuk mengerjakan hal-hal yang tadinya dilarang ketika dalam keadaan ihram.

Demikianlah ringkasan amalan umrah yang merupakan faedah dari Buku “Petunjuk Praktis Manasik Haji dan Umrah”, penulis Abu Abdillah, terbitan Darul Falah.

@ 4 Dzulqo’dah 1431 H, in King Saud University, Riyadh, KSA

Penyusun: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Muslim.Or.Id


[1] Do’a masuk masjid dan keluar masjid sebagaimana terdapat dalam hadits Abu Sa’id:

إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمُ الْمَسْجِدَ فَلْيَقُلِ اللَّهُمَّ افْتَحْ لِى أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ. وَإِذَا خَرَجَ فَلْيَقُلِ اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ

“Jika salah seorang di antara kalian memasuki masjid, maka ucapkanlah, ‘Allahummaftahlii abwaaba rohmatik’ (Ya Allah, bukakanlah pintu-pintu rahmat-Mu). Jika keluar dari masjid, ucapkanlah: ‘Allahumma inni as-aluka min fadhlik’ (Ya Allah, aku memohon pada-Mu di antara karunia-Mu).” (HR. Muslim no. 713)

[2] Yang dimaksud Maqam Ibrahim, yaitu tempat berdiri Nabi Ibrahim ‘alaihis salam ketika membangun Ka’bah, bukan kuburan beliau. Shalat di belakang Maqam Ibrahim jika kondisinya memungkinkan. Adapun jika tidak memungkinkan karena dipadati oleh orang-orang yan thawaf atau yang mengerjakan shalat, maka boleh shalat di tempat mana pun di dalam Masjidil Haram.

[3] Dalam hadits Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu yang amat panjang disebutkan,

فجعل المقام بينه وبين البيت [ فصلى ركعتين : هق حم ] فكان يقرأ في الركعتين : ( قل هو الله أحد ) و ( قل يا أيها الكافرون ) ( وفي رواية : ( قل يا أيها الكافرون ) و ( قل هو الله أحد

“Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan maqom Ibrahim antara dirinya dan Ka’bah, lalu beliau laksanakan shalat dua raka’at. Dalam dua raka’at tersebut, beliau membaca Qulhuwallahu ahad (surat Al Ikhlas) dan Qul yaa-ayyuhal kaafirun (surat Al Kafirun). Dalam riwayat yang lain dikatakan, beliau membaca Qul yaa-ayyuhal kaafirun (surat Al Kafirun) dan Qulhuwallahu ahad (surat Al Ikhlas).” (Disebutkan oleh Syaikh Al Albani dalam Hajjatun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, hal. 56)

[4] HR. Muslim no. 1218.



Sumber: http://muslim.or.id/9534-panduan-umrah.html

Sabtu, 01 Oktober 2016

Gua Tsur Penggalan Kisah Hijrah, Bukti Keimanan dan Kecintaan Seorang Sahabat

Di gua Tsur wajah Abu Bakar r.a. pucat pasi. Langkah kaki para pemuda Quraisy tidak lagi terdengar samar. Tak terasa tubuhnya bergetar hebat, betapa tidak, dari celah gua Tsur ia mampu melihat para pemburu itu berada di atas kepalanya. Setengah berbisik berkatalah Abu Bakar, "Wahai Rasul Allah, jika mereka melihat ke kaki-kaki mereka, sesungguhnya mereka pasti melihat kita berdua". Rasulullah memandang Abu Bakar penuh makna. Ditepuknya punggung sahabat dekatnya ini pelan sambil berujar "Janganlah engkau kira, kita hanya berdua. Sesungguhnya kita bertiga, dan yang ketiga adalah Dia, Allah SWT, Yang Maha Mengenggam Kekuasaan".
Sejenak ketenangan menyapa Abu Bakar. Sama sekali ia tidak mengkhawatirkan keselamatannya. Kematian baginya bukan apa-apa, ia hanya lelaki biasa. Sedang, untuk lelaki mulia yang kini dekat di sampingnya, keselamatan di atas mati dan hidupnya. Bagaimana Madinah jika harus kehilangan purnama. Bagaimana dunia tanpa benderang penyampai wahyu. Sungguh, ia tak gentar dengan tajam mata pedang para pemuda Quraisy, yang akan merobek lambung serta menumpahkan darahnya. Sungguh, ia tidak khawatir runcing anak panah yang akan menghunjam setiap jengkal tubuhnya. Ia hanya takut... mereka membunuh Muhammad SAW.

Berdua mereka berhadapan, dan sepakat untuk bergantian berjaga. Abu Bakar memandang wajah syahdu di depannya dalam hening. Setiap guratan di wajah indah itu ia perhatikan seksama. Kelelahan yang mendera setelah berperjalanan jauh, seketika seperti ditelan kegelapan gua. Hanya ada satu nama yang berdebur dalam dadanya, CINTA... Sejeda kemudian, Muhammad tertidur di pangkuan Abu Bakar. Dalam senyapnya malam, wajah Abu Bakar muram. Ia teringat perlakuan orang-orang Quraisy yang memburu Purnama Madinah seperti memburu hewan buruan. Sebuah kuntum azzam memekar di kedalaman hatinya, begitu semerbak. "Selama hayat berada dalam raga, aku Abu Bakar, akan selalu berada di sampingmu, untuk membelamu dan tak akan membiarkan siapapun mengganggumu".

Gua Tsur itu begitu dingin dan remang-remang. Tiba-tiba saja, seekor ular mendesis-desis perlahan mendatangi kaki Abu Bakar yang terlentang. Abu Bakar menatapnya waspada, ingin sekali ia menarik kedua kakinya untuk menjauh dari hewan berbisa ini. Namun, keinginan itu dienyahkannya dari benak, tak ingin ia mengganggu tidur nyaman Rasulullah. Bagaimana mungkin, ia tega membangunkan kekasih yang sangat kelelahan itu. Abu Bakar meringis ketika ular itu menggigit pergelangan kakinya, tapi kakinya tetap saja tak bergerak sedikitpun. Dan ular itu pergi setelah beberapa lama. Dalam hening, sekujur tubuhnya terasa panas. Bisa ular segera menjalar cepat. Abu Bakar menangis diam-diam. Rasa sakit itu tak dapat ditahan lagi. Tanpa sengaja, air matanya menetes mengenai pipi Rasulullah yang tengah berbaring. Abu Bakar menghentikan tangisannya, kekhawatirannya terbukti, Rasulullah terjaga dan menatapnya penuh rasa ingin tahu.

"Wahai hamba Allah, apakah engkau menangis karena menyesal mengikuti perjalanan ini" suara Rasulullah memenuhi udara Gua Tsur.

"Tentu saja tidak, saya ridha dan ikhlas mengikutimu kemana pun" potong Abu Bakar masih dalam kesakitan.

"Lalu mengapakah, engkau meluruhkan air mata?"

"Seekor ular baru saja menggigit saya wahai putra Abdullah, dan bisanya menjalar begitu cepat"
Rasulullah menatap Abu Bakar penuh keheranan, tak seberapa lama bibirnya bergerak "Mengapa engkau tidak menghindarinya?"

"Saya khawatir membangunkanmu dari lelap" jawab Abu Bakar. Ia kini menyesal karena tidak dapat menahan air matanya hingga mengenai pipi Rasulullah.

Saat itu air mata bukan milik Abu Bakar saja. Selanjutnya mata Rasulullah berkabut dan bening air mata tergenang di pelupuknya. Betapa indah sebuah ukhuwah.

"Sungguh bahagia, aku memiliki seorang seperti mu wahai putra Abu Quhafah. Sesungguhnya Allah sebaik-baik pemberi balasan". Tanpa menunggu waktu, dengan penuh kasih sayang, Rasulullah meraih pergelangan kaki yang digigit ular. Dengan mengagungkan nama Allah, Nabi mengusap bekas gigitan itu dengan ludahnya. Maha suci Allah, seketika rasa sakit itu tak lagi ada. Abu Bakar segera menarik kakinya karena malu.

"Bagaimana mungkin, mereka para kafir tega menyakiti manusia seperti mu. Bagaimana mungkin?" nyaring hati Abu Bakar kemudian.

Gua Tsur kembali ditelan senyap. Kini giliran Abu Bakar yang beristirahat dan Rasulullah berjaga. Dan, Abu Bakar menggeleng kuat-kuat ketika Rasulullah menawarkan pangkuannya. Tak akan rela, dirinya membebani pangkuan penuh berkah itu.

----
Abu Bakar adalah lelaki pertama yang memeluk Islam dan juga salah satu sahabat terdekat Rasulullah. Kisah tadi terjadi pada saat ia menemani Rasulullah berhijrah menuju Madinah dan harus menginap di Gua Tsur selama tiga malam. Menemani Nabi untuk berhijrah adalah perjalanan penuh rintang. Ia sungguh tahu akibat yang akan digenggamnya jika misi ini gagal. Namun karena cinta yang berkelindan di kedalaman hatinya begitu besar, Abu Bakar dengan sepenuh jiwa, raga dan harta, menemani sang Nabi pergi.

Kekokohan imannya terlihat ketika Madinah kelabu karena satu kabar bahwa Nabi telah wafat. Banyak manusia terlunta dan larut dalam lara yang sempurna. Bahkan Umar murka dan tidak mempercayai kenyataan yang ada. Saat itu Abu Bakar tampil mengingatkan seluruh sahabat dan menggaungkan satu khutbah yang mahsyur "Ketahuilah, siapa yang menyembah Muhammad, maka ia telah meninggal dunia. Dan sesiapa yang menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah tidak mati".

Kepergian sang tercinta, tidak menyurutkan keimanan dalam dadanya. Ketiadaan Rasulullah, jua tak memadamkan gebyar semangat untuk terus menegakkan pilar-pilar Islam yang telah dipancangkan. Abu Bakar wafat pada usia 63 tahun, pada saat perang atas bangsa Romawi di Yarmuk berkecamuk dengan kemenangan di tangan Muslim. Hidup Abu Bakar berhenti sampai di sana, namun selanjutnya manusia yang menurut Rasulullah menjadi salah seorang yang dijamin masuk surga, terus saja mengharumkan sejarah sampai detik sekarang. Ia mencintai Nabinya melebihi dirinya sendiri.

Begitulah Sepenggal Kisah Cinta Seorang Sahabat kepada Nabi-nya.

source: 1001 Kisah Teladan.

Bagi sahabat yang ingin mengunjungi Gua Tsur, dan menziarahi tempat-tempat yang menjadi sejarah ke-Nabi-an, segera daftarkan ke PT Safana Nabilla Wisata, kami memberikan pelayanan terbaik dengan harga terjangkau.

Rabu, 28 September 2016

TIPS UMROH NYAMAN DI SAAT MUSIM DINGIN


Negara arab saudi mempunyai dua musim, musim panas dan dingin. Berbeda dengan di Indonesia, di saudi perubahan cuasa cukup ekstrim. Musim panas bisa mencapai 55 derajat sedangkan musim dingin berkisar nol sampai minus 10 derajat celcius. Berbeda dengan musim panas, orang Indonesia biasa mengalaminya meskipun tidak sepanas di Saudi, akan tetapi musim dingin yang ekstrem dengan kelembaban yang rendah yaitu 24 % (sangat kering), maka  Khusus musim dingin  ini jamaah haji Indonesai harus bisa menyesuaikan diri. Berikut Tips Umroh Nyaman di saat Musim Dingin

Sengatan dingin bagi jamaah umroh yang berasal dari daerah maupun mereka yang telah terbiasa dengan cuaca dingin, suhu di Tanah Suci pada bulan September hingga Maret nanti mungkin tak akan menjadi persoalan serius. Namun bagi jamaah umroh dari Indonesia pada umumnya, suhu udara yang kadang dapat mencapai minus dua derajat celcius di Tanah Suci Mekkah dan Madinah akan menjadi kendala yang sangat serius.



Serangan hawa dingin dan hembusan angin kencang akan dialami jamaah umroh semenjak menapakkan kaki baik di Bandara King Abdul Aziz Jeddah, Madinah Al Munawarrah, dan tentunya Mekkah Al Mukarramah. Selain cuaca dingin  dengan kelembaban yang rendah, tiupan angin yang terasa kering dan lebih kencang dari biasanya terasa sampai menusuk ke tulang. Kondisi itu akan memuncak menjelang pagi hari dan di malam hari.

Untuk menghadapi cuaca dingin selama ibadah umroh di Tanah Suci, sebaiknya sebelum berangkat hendaknya jamaah umroh mempersiapkan diri jauh–jauh hari sebelum hari keberangkatan. Selain persiapan fisik dan mental, juga perlu mengetahui kondisi kesehatan serta obat–obatan apa yang diperlukan di dalam perlengkapan umroh yang harus dibawa. Dengan begitu diharapkan dapat mengantisipasi keadaan dingin di Mekkah dan Madinah nantinya.

Persiapan fisik menghadapi musim dingin sejak di Tanah Air dapat dimulai dengan membiasakan diri berolah raga maupun lari pagi, atau setidaknya hanya sekedar jalan kaki setelah Shalat Subuh secara teratur, serta mengatur pola asupan makanan dengan gizi yang seimbang.

Umroh dan Haji memang sedikit berbeda dengan amal ibadah lainnya, hampir 70 % ibadah umroh yang dilaksanakan di kota Mekkah diisi dengan kegiatan yang memerlukan kekuatan fisik. Meskipun jarak hotel yang dekat, namun jamaah tetap harus berjalan minimal 50 hingga 200 meter menuju dan sepulang dari masjidil haram maupun masjid nabawi. Atau saat jamaah umroh mengambil miqat keluar tanah haram, thawaf, sa’i, hingga selesai tahallul, semua membutuhkan kekuatan fisik. Berdesakan dengan jamaah lain saat thawaf dan mencium hajar aswad serta perjalanan sa’i di dalam masjidil haram juga cukup menguras banyak energi. Ditambah lagi saat jamaah memasuki area Raudhah di Masjid Nabawi untuk merasakan nikmat nya taman surga. Karena itulah fisik yang prima sangat diperlukan.

Salah satu Panduan Ke Tanah Suci saat Musim Dingin dan upaya menghadapi cuaca dingin di kota Mekkah dan Madinah adalah dengan membawa perlengkapan yang merupakan “senjata perlawanan” untuk bisa menahan hawa dingin seperti sweeter, jaket tebal, kaus kaki, masker, serta penutup kepala. Banyak juga dari jamaah umroh asal Indonesia yang membawa sebo (peci kuncung penutup kepala hingga leher, dimana yang terbuka hanya pada bagian wajah ). Ini juga menjadi senjata yang mampu diandalkan untuk menahan dingin.

Obat ataupun obat herbal anti masuk angin juga kadang kala diperlukan, banyak juga jamaah umroh yang melawan masuk angin dengan therapi tradisional, kerik’an. Siapkan obat batuk dan pilek atau pun flu. Cara yang cukup efektif menghindari kulit kering dan bersisik dapat dengan membawa krim pelembab. Lipgloss juga efektif untuk menghindari bibir pecah-pecah, atau dapat pula diganti dengan madu dengan cara mengoleskannya di bibir sebelum keluar dari hotel di dekat masjidil haram.

Semua jenis obat–obatan, pelembab, maupun madu memang dapat dengan mudah diperoleh di toko–toko farmasi di dekat masjidil haram ( Mekkah) maupun masjid nabawi (Madinah), namun alangkah baiknya apabila perlengkapan yang harus dibawa jamaah umroh tersebut dipersiapkan dari tanah air. Selain menghindari kesulitan berkomunikasi, serta tidak membuang waktu yang seharusnya dapat dimanfaatkan untuk beribadah, juga dapat meminimalisir biaya umroh. Jika keluhan kesehatan berlanjut, jangan segan untuk segera menghubuingi muthawif (guide) maupun pembimbing umroh dari biro travel. Untuk mendapatkan penanganan lebih intensif di pusat kesehatan terdekat

Gunakan pakaian yang dapat melindungi tubuh dari udara dingin. Selalu bawa jaket (bisa juga memakai pakaian beberapa lapis), kaos kaki dan penutup kepala di tas tentengan

Pada umumnya suhu udara saat jamaah umroh berada di Madinah Al Munawarrah terasa lebih dingin dibandingkan dengan suhu kota Makkah. Pada saat menjelang adzan Subuh suhu udara dan ditambah dengan kecepatan hembusan angin membuat cuaca dingin terasa sangat menusuk,  sebaiknya bagi jamaah yang ignin beribadah sholat subuh masjid nabawi, berangkatlah lebih awal, supaya mendapatkan tempat di dalam bangunan masjid karena apabila terlambat sedikit saja, jamaah terpaksa melaksanakan shalat di area pelataran masjid, yang dinginnya akan lebih menyiksa.

Walaupun cuaca dingin, namun di siang hari, suhu relatif tetap hangat. Namun terpaan sinar matahari secara langsung, ditambah dengan angin kencang membuat ancaman Dehidrasi (kekurangan cairan) dapat terjadi tanpa disadari. Perbanyak mimum air putih maupun Air zam-zam, mata air dari surga yang dengan mudah di dapati dalam maupun sekitar area di masjidil Haram maupun Masjid Nabawi. Atau lebih baik jika jamaah membawa tempat minum berukuran 600 ml, atau untuk persiapan dikala ibadah thawaf .

Asupan Makanan juga salah satu hal yang sangat diperhatikan oleh Safana Tour, untuk selalu menjaga keseimbangan makanan yang nantinya akan bermuara pada stamina fisik para jamaah umroh. Dengan menu masakan yang sesuai dengan selera jamaah Indonesia pada umumnya, dan penyajian yang tepat waktu membuat semua aspek benar-benar kami perhatikan.”Makanlah dengan logika jangan menggunakan perasaan”. Itulah nasihat yang sering kami tekankan kepada para jamaah Umroh dan Haji.

Nasihat itu sebenarnya bertujuan agar kita harus tetap makan dengan makanan bergizi yang telah disajikan. Mempergunakan logika, berarti bahwa jika jamaah kelelahan atau karena saking asyiknya berbelanja memilih oleh–oleh di toko–toko sekitar masjid, terutama saat di kota Mekkah, sering mengabaikan waktu makan, hingga terlambat makan atau bahkan tidak memakannya sama sekali. Kondisi semacam ini dikhawatirkan akan mengganggu kesehatan jamaah. Akan sangat fatal jika hanya karena masalah makanan rencana perjalanan umroh jadi berantakan.

Berikut Rangkuman tips Panduan Ke Tanah Suci saat Musim Dingin Mekkah :

1) Setelah bangun pagi, usahakan melakukan kegiatan fisik ringan misalnya peregangan, lari pagi atau minimal jalan-jalan kecil setelah shalat subuh.
2) Gunakan pakaian yang dapat melindungi tubuh dari udara dingin. Selalu bawa jaket (bisa juga memakai pakaian beberapa lapis), kaos kaki dan penutup kepala di tas tentengan
3) Jika perlu, gunakan krim pelembab untuk melindungi kulit dari kekeringan sekaligus mengurangi penguapan air dari tubuh melalui kulit. Bisa juga menggunakan pelembab bibir agar tidak pecah-pecah
4) Mandi dan minum denga air hangat. Beberapa hotel dan penginapan selalu menyediakan
5) Gunakan masker yang dilembabkan (dikompres air) untuk menghindari pembuluh darah yang pecah di hidung akibat kekeringan udara.
6) Di Madinah suhu udara lebih dingin daripada di Mekkah, usahakan anda shalat di dalam masjid dengan berangkat lebih awal. Karena jika tertinggal, akan dapat tempat shalat di luar masjid dengan suhu yang dingin.
7) Khusus Di Mekah, suhu lebih dingin ketika di Mina, Muzdalifah, dan Arafah karena berupa lapangan terbuka. Sebaiknya lebih mempersiapkan diri.

Itulah beberapa Panduan Ke Tanah Suci saat Musim Dingin yang bisa di gunakan saat Beribadah di tanah suci mekkah. Semoga bermanfaat.

Rabu, 14 September 2016

Keutamaan Air Zam-zam dan Anjuran untuk memperbanyak minum, agar terhindar dari Ciri kemunafikan

Sumur dan Air Zam-zam adalah merupakan Mu'jizat yang Allah SWT berikan dengan perantara (bayi) Nabi Ismail A.S yang sampai sekarang masih dapat dijumpai bahkan dinikmati oleh Umat Manusia. Dan sumur-nya sempat mengering, bahkan keberadaan-nya tidak ada seorangpun yang mengetahuinya selama berabad-abad, hal ini terjadi seiring dengan meningkatnya dan merajalelanya perilaku dan tindakan kemusyrikan di sekitar Baitullah/Ka'bah.

Hingga suatu malam, sebelum kelahiran Rasulullah saw, Abdul Muthalib, Kakek Nabi SAW, bermimpi, didalam mimpinya beliau  didatangi suara ghaib yang menyuruh beliau untuk menggali sumur zam-zam kembali, yang posisinya persis ditempat sumur zam-zam semula. Ketika digali, dengan izin Allah SWT, maka keluarlah Air dari sumur Zam-zam, selanjutnya beliau mempersilahkan siapa saja untuk meminum air zam-zam tersebut, dan beliau lah sebagai orang yang berhak memberi minum air zam-zam sekaligus sebagai pemelihara-nya.

Pada saat pembebasan kota makkah al-mukarromah yang dikenal dengan peristiwa Fathuh Makkah, Rasulullas SAW memberikan tanggung jawab pengelolaan dan pemeliharaan Sumur Zam-zam kepada Abbas Ibn Abdul Muthalib (Paman Beliau), sebagaimana tercantum dalam Akhbar Makkah li al Azraqy, 2/42, 65; Syifa' al-Gharam, 1/247.

Dahulu kala air zam-zam diambil dengan gayung atau timba. Kemudian dibangun pompa air pada tahun 1373 H atau tahun 1953 Masehi. Pompa ini menyalurkan air dari sumur ke bak penampungan air. Pompa juga menyalurkan ke kran-kran yang ada di sekitar sumur zam-zam.

safanatour.com/sumur zam-zam


Sumur zam-zam terletak kira-kira 21 meter dari Ka'bah. Dari mata air ini, terdapat celah ke arah Hajar Aswad dengan panjang 75cm dengan ketinggian 30cm yang juga menghasilkan air sangat banyak.

Ada pula celah ke arah pengeras suara dengan panjang 70cm dan tinggi 30cm, di samping beberapa celah kecil lainnya ke arah Shafa dan Marwa. (Sejarah Makkah, Muhammad Ilyas Abdul Ghani)

Berikut beberapa Keutamaan dan Keistimewaan Air Zam Zam

1. Air Zam-zam berasal dari mata air syurga

2. Merupakan mata air pemberian Allah SWT atas do'a Nabi Ibrahim AS

3. Menjadi faktor penentu hidup dan perkembangan kota Makkah.

4. Merupakan bukti nyata kekuasaan Allah di tanah suci.

5. Menjadi ni'mat agung serta membawa manfaat besar bagi Masjidil Haram

6. Sebaik-baik jenis air di muka bumi.

Air yang berasal dari sumur zam-zam, sudah dilakukan beberapa tes dengan teknologi terkini ternyata hasilnya sangat menakjubkan, semakin memperbesar keimanan kita kepada Allah SWT, tidak ada air dimuka bumi ini yang lebih bagus dari air zam-zam, meskipun air tersebut diolah dengan teknologi modern sekalipun.

7. Munculnya melalui perantara malaikat Jibril

8. Berada di tempat paling suci di muka bumi.

9. Air yang digunakan untuk mencuci hati Rasulullah SAW lebih dari satu kali

10. Rasulullah pernah memberkatinya dengan air ludah beliau.

11. Air yang dapat berfungsi sebagai makanan sekaligus obat penyembuh berbagai macam penyakit.

Diriwayatkan dalam kitab Shahih Muslim bahwa Nabi bertanya kepada Abu Dzarr, yang telah tinggal selama 30 hari siang malam di sekitar Ka'bah tanpa makan-minum, selain Zamzam. “Siapa yang telah memberimu makan?” Jawab Abu Dzarr, “Saya tidak punya apa-apa kecuali air Zamzam ini, tapi saya bisa gemuk dengan adanya gumpalan lemak di perutku” Abu Dzarr menjelaskan, “Saya juga tidak merasa lelah atau lemah karena lapar, dan tak menjadi kurus”. Tambah Abu Dzarr. Lalu Nabi saw menjelaskan: ”Sesungguhnya, Zam-zam ini air yang sangat diberkahi, ia adalah makanan yang mengandung gizi”.
Nabi saw menambahkan: “Air zam-zam bermanfaat untuk apa saja yang diniatkan ketika meminumnya. Jika engkau minum dengan maksud agar sembuh dari penyakitmu, maka Allah menyembuhkannya. Jika engkau minum dengan maksud supaya merasa kenyang, maka Allah mengenyangkan engkau. Jika engkau meminumnya agar hilang rasa hausmu, maka Allah akan menghilangkan dahagamu itu. Ia adalah air tekanan tumit Jibril, minuman dari Allah untuk Ismail”. (HR Daruqutni, Ahmad, Ibnu Majah, dari Ibnu Abbas).

Rasulullah saw pernah mengambil air zam-zam dalam sebuah kendi dan tempat air dari kulit, kemudian membawanya kembali ke Madinah. Air zamzam itu digunakan Rasulullah saw untuk memerciki orang sakit dan kemudian disuruh meminumnya.

12. Dapat menghilangkan pusing kepala.

13. Jika diminum dengan niat kebaikan, Allah akan mengabulkannya.

14. Keiginan untuk mengetahui seluk beluknya merupakan tanda keimanan dan memperbanyak minumnya menjauhi sifat nifaq (munafik).
”Seperti apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan selainnya dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anuma bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:Dan di antara Sunnah ketika minum zam zam adalah memperbanyak minum hingga Tadhallu’. Sementara Tadhallu’ adalah meminumnya dengan banyak hingga memenuhi lambungnya. An-Nihaayah, Ibnul Atsir (III/97).
Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Sunannya (II/1017) kitab al-Manaasik bab asy-Syurbu min Zamzam, dalam hadits ini terdapat kisah. Al-Bushiri berkata, “Sanadnya shahih, perawi-perawinya dipercaya.” Misbaahuz Zujaajah (III/34), diriwayatkan oleh ad-Daraquthni dalam Sunannya (II/288) dan al-Hakim dalam al-Mustadrak (I/472) kitab al-Manaasik dan ‘Abdurrazzaq dalam al-Mushannif (V/113).“Sesungguhnya tanda antara kita dengan orang-orang munafik adalah bahwasanya mereka tidak memperbanyak minum air zamzam.”“إِنَّ آيَةً مَابَيْنَنَا وَبَيْنَ الْمُنَافِقِيْنَ أَنَّهُمْ لاَ يَتَضَلَّعُوْنَ مِنْ زَمْزَمَ.

15. Air minum untuk orang-orang yang baik.

16. Menguatkan badan.

17. Tidak akan habis walau airnya selalu diambil.
Ada banyak keunikan tentang air zamzam ini, diantaranya mata airnya yang tidak pernah kering meskipun dipompa terus-menerus oleh jutaan orang dari penjuru dunia. Namun juga punya kontrol yang luar biasa sehingga airnya tidak sampai meluber, padahal jika dengan hitungan matematis mungkin saja bumi sudah tenggelam oleh pancaran mata airnya yang deras. Berikut penjelasannya.​

Permukaan air ZamZam adalah sekitar 10.6 kaki di bawah permukaan tanah. Adalah sebuah mukjizat dari Allah SWT bahwa ketika sumur Zam Zam dipompa terus menerus selama 24 jam tanpa henti dengan tingkat sedotan 8 ribu liter/detik, permukaan sumur akan turun hingga 44 kaki di bawah permukaan tanah.

TETAPI, ketika pemompaan berhenti, permukaan sumur segera kembali pada 13 kaki di bawah permukaan tanah setelah 11 menit.

18. Sumur tertua di bumi yang masih mengeluarkan air, umurnya lebih dari 5.000 tahun.

Semoga Allah SWT memberikan kesempatan kepada kita untuk mengunjungi Baitullah, tempat dimana Sumur zam-zam berada, sehingga kita dapat meminum air zam-zam, sepuas kita. Aamiin.

Senin, 05 September 2016

MAKKAH SEDALAM CINTA

Jika kau merindu Makkah, sesekali abaikanlah bayangan tentang gedung-gedung yang menjulang gagah, juga jam raksasa yang berdetak mengabarkan kian dekatnya sa'ah.

Tapi biarkan khayal itu menyusuri bukit-bukit yang kini bebatuannya pecah-pecah, yang di tengahnya dulu terjepit sebuah lembah. Di situlah semua bermula, dalam doa di dekat bangunan tua yang tetap terjaga bersahaja.

“Ya Rabb kami, sungguh telah kutempatkan sebagian keturunanku di lembah tak bertanaman di dekat rumahMu yang dihormati. Ya Rabb kami, agar mereka mendirikan shalat. Maka jadikanlah hati sebagian manusia merundukkan cinta pada mereka,dan karuniakan pada mereka rizki dari buah-buahan. Mudah-mudahan mereka bersyukur.”
[QS. Ibrahim [14]: 37]



Mereka yang menyejarah, memulai semuanya dengan keyakinan pada Penggenggam Alam Semesta, bahwa hidup prihatinnya adalah agar sandaran jiwa raganya hanya kepada Allah.

Kadang ia memang duka, tapi sedalam cinta.

Bayangkanlah kecamuk perasaan seorang istri yang ditinggalkan beserta bayi merah oleh sang suami, di tempat yang harapan hidup dalam nalar manusia sungguh nihil kiranya. Tiga kali dia mengejar lelaki yang tak sanggup berkata-kata itu dengan tanya, "Mengapa kautinggalkan kami?" Dan semua baru jelas ketika dia mengganti soalan menjadi, "Apakah ini perintah Allah?"

"Ya."

"Jika ini perintah Allah", begitu dia tegaskan dengan menguatkan hati, "Dia takkan pernah menyia-nyiakan kami."

Perasaan imani wanita ini, yang diperjuangkan mengatasi emosi-emosi; kecewa, takut, galau, sedih, dan cemburu menjadi tonggak berdirinya sebuah peradaban hanifiyyah. Tanpa ucapan Hajar ini, kita tahu; lembah Bakkah tetap akan sunyi, tak ada lari bolak-balik tujuh kali dalam pendingin udara yang sejuk sekali, meski kita sedang mengenang pembuktian iman di tengah terik mentari yang memanggang pasir dan batu menyengat kaki, dengan sisa tenaga seorang wanita yang air susunya kering dan bayinya menangis kelaparan.

Duka Ibrahim yang berulang, ketika buah hati sibiran tulang yang dinanti hingga menua harus ditinggalkan, kemudian ketika dia tumbuh gagah membanggakan lalu harus disembelih, adalah duka sedalam cinta.

Cinta pada Allah di atas segalanya.

Jika nanti kau mengunjungi Makkah, sesekali palingkanlah wajah dari toko-toko yang megah dan barangan yang mewah, dan beralihlah menatap pasir-pasir dan debunya yang kini lebih kerana pembangunan di mana-mana.

Sebab dalam suasana itu, Sumayyah menemui syahadah, Yasir disalib, Bilal diseret ke tengah gurun, ditindih batu di atas pasir membara, dan dicambuk hingga pemecutnya kelelahan. Sebab dalam sesak itu, Khabbab pernah diselongsong di atas api pembakar besi, hingga cairan yang menetes dari lepuhan punggunglah yang memadamkan nyalanya.

Dalam gerah ini pula, Sang Nabi ﷺ menangis dan berkata, "Duhai Makkah, sungguh engkau adalah bagian bumi yang paling dicintai Allah, maka kamipun sangat mencintaimu.. Seandainya bukan karena kaumku mengusirku darimu, aku takkan pernah meninggalkanmu.."

Jika kau nanti menjadi tamu Allah, sesekali pejamkan matamu dari kilau gemerlap lampu-lampunya, kecerlangan marmer dan granit berukir-ukir. Lalu bacalah talbiyah dengan penghayatan orang-orang yang dipanggil Ibrahim lalu datang berjalan kaki atau menaiki unta-unta kurus dalam perjalanan berbulan-bulan dari lembah-lembah yang dalam.

Lalu mari mengenang dua uswah hasanah itu dalam doa rindu, "Allahumma shalli 'ala Muhammad wa 'ala ali Muhammad. Kama shallaita 'ala Ibrahim wa 'ala ali Ibrahim."

Mereka yang menyejarah, selalu rindu kepada Makkah, menghayati duka sedalam cinta..

@Salimafillah

PT Safana Nabilla Wisata (Safana Tour), siap memfasilitasi Jamaah yang akan menunaikan Ibadah Umroh dan Haji dengan penuh khusu' mengenang sejarah para Nabi.
www.safanatour.com , Info lebih lanjut : 081212 023 023 , 0853 1144 7576

Kamis, 18 Agustus 2016

Tips Aman dan Nyaman Ibadah Umroh atau Haji

Setiap Muslim pasti ingin menyempurnakan Ke-Islaman-nya dengan melaksanakan Rukun Islam yang ke-5, yaitu menunaikan (Ibadah) Haji, bagi yang mampu. Namun untuk menunaikan Ibadah Haji dibutuhkan Biaya yang tidak sedikit. Pemerintah Indonesia, melalui Kementrian Agama menetapkan Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) Tahun 2016 sekitar Rp 31 juta sampai dengan Rp 38 juta cukup besar, tergantung dari asal keberangkatan (Embarkasi) Jamaah Haji. Itu pun belum termasuk biaya-biaya lainnya yang perlu dikeluarkan misal : untuk biaya bimbingan, uang saku, dana untuk oleh-oleh, dana yang ditinggalkan untuk keluarga di tanah air, biaya tasyakuran dan lain-lain.

Sementara untuk BPIH Khusus, Pemerintah menetapkan biaya yang lebih besar, minimal sebesar USD 8.500,- karena untuk memastikan standar pelayanan Haji Khusus, yang pengelolaannya dilakukan oleh Perusahaan Tour dan Travel yang telah mendapatkan izin sebagai Penyelenggara Ibadah Haji Khusus (PIHK).

Itu baru dari soal biaya, masih ada kendala lain, yaitu semakin bertambahnya jumlah pemeluk Islam di seluruh dunia, terakhir di Tahun 2015 sekitar 1,4 Milyar umat Islam. Sementara kapasitas Tempat, Akomodasi dan Transportasi untuk pelaksanaan Ibadah Haji terbatas, terakhir sekitar 3 juta Umat Islam yang dapat melaksanakan Ibadah Haji per tahun. Hal ini mengakibatkan antrian yang cukup panjang untuk calon jamaah haji, terutama yang berasal dari negara muslim dengan penduduk yang banyak dan tingkat kesejahteraan dan kesadaran ke-Islaman yang tinggi, termasuk calon jamaah haji yang berasal dari Indonesia.

Rata-rata lamanya antrian untuk Haji Reguler (yang dikelola Kementrian Agama R.I) sekitar 12 tahun, untuk Haji Khusus (yang dikelola Perusahaan Travel) sekitar 5 tahun. Lama-nya antrian untuk menunaikan Ibadah Haji, mengakibatkan sebagian masyarakat muslim, terutama yang sudah berusia lanjut, lebih memilih untuk menjalankan Ibadah Umroh lebih dulu, sambil menunggu antrian untuk melaksanakan Ibadah Haji, sehingga ada peningkatan umat Islam yang melaksanakan Ibadah Umroh.

Jumlah jamaah Umroh dari Indonesia semakin tahun semakin meningkat jumlahnya, tahun 2016 sekitar 1 juta orang Islam dari Indonesia melaksanakan Ibadah Umroh. Hal ini disebabkan karena biasanya, orang yang sudah "merasakan" suasana melaksanakan Ibadah di Tanah Suci, Mekkah dan Medinah, akan selalu ingin merindukan untuk mengulanginya kembali, belum lagi banyak hadits Rasulullah SAW yang menyebutkan keutamaan-keutamaan Ibadah Umroh dan pahala Ibadah di Masjidil Haram di Mekkah dan Masjid Nabawi di Medinah, yang berkali-lipat dibandingkan Ibadah di Masjid Tanah Air.

Peningkatan jumlah umat Islam yang ingin melaksanakan Ibadah Umroh, merupakan peluang usaha bagi perusahaan-perusahaan Tour dan Travel. Sehingga semakin menjamur berdirinya Tour & Travel yang menawarkan jasa/paket Perjalanan Ibadah Umroh. Di satu sisi ini merupakan kabar gembira bagi perusahaan Tour & Travel, di sisi lain, ada beberapa Oknum, yang berusaha memanfaatkan keinginan dan permintaan yang meningkat ummat Islam yang menjalankan Ibadah Umroh, dengan tujuan untuk meraup keuntungan yang sebesar-besarnya, tanpa memperhatikan kualitas pelayanan, bahkan sebagian ada yang bertujuan untuk menipu calon jamaah Umroh.



Untuk melindungi ummat Islam dalam menjalankan Ibadah Umroh dan memastikan ke-amanan dan ke-nyamanan serta menghindari dari penipuan oleh Oknum Tour dan Travel, Pemerintah melalui Kementrian Agama R.I. men-sosialisasikan Program 5 Pasti, yaitu Pasti-kan Travelnya Ber-izin, Pasti-kan Jadwal-nya, Pasti-kan Penerbangannya, Pasti-kan Hotelnya dan Pasti-kan Visa-nya.

Tips Aman dan Nyaman Ibadah Umroh atau Haji

Setiap Muslim pasti ingin menyempurnakan Ke-Islaman-nya dengan melaksanakan Rukun Islam yang ke-5, yaitu menunaikan (Ibadah) Haji, bagi yang mampu. Namun untuk menunaikan Ibadah Haji dibutuhkan Biaya yang tidak sedikit. Pemerintah Indonesia, melalui Kementrian Agama menetapkan Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) Tahun 2016 sekitar Rp 31 juta sampai dengan Rp 38 juta cukup besar, tergantung dari asal keberangkatan (Embarkasi) Jamaah Haji. Itu pun belum termasuk biaya-biaya lainnya yang perlu dikeluarkan misal : untuk biaya bimbingan, uang saku, dana untuk oleh-oleh, dana yang ditinggalkan untuk keluarga di tanah air, biaya tasyakuran dan lain-lain.

Sementara untuk BPIH Khusus, Pemerintah menetapkan biaya yang lebih besar, minimal sebesar USD 8.500,- karena untuk memastikan standar pelayanan Haji Khusus, yang pengelolaannya dilakukan oleh Perusahaan Tour dan Travel yang telah mendapatkan izin sebagai Penyelenggara Ibadah Haji Khusus (PIHK).

Itu baru dari soal biaya, masih ada kendala lain, yaitu semakin bertambahnya jumlah pemeluk Islam di seluruh dunia, terakhir di Tahun 2015 sekitar 1,4 Milyar umat Islam. Sementara kapasitas Tempat, Akomodasi dan Transportasi untuk pelaksanaan Ibadah Haji terbatas, terakhir sekitar 3 juta Umat Islam yang dapat melaksanakan Ibadah Haji per tahun. Hal ini mengakibatkan antrian yang cukup panjang untuk calon jamaah haji, terutama yang berasal dari negara muslim dengan penduduk yang banyak dan tingkat kesejahteraan dan kesadaran ke-Islaman yang tinggi, termasuk calon jamaah haji yang berasal dari Indonesia.

Rata-rata lamanya antrian untuk Haji Reguler (yang dikelola Kementrian Agama R.I) sekitar 12 tahun, untuk Haji Khusus (yang dikelola Perusahaan Travel) sekitar 5 tahun. Lama-nya antrian untuk menunaikan Ibadah Haji, mengakibatkan sebagian masyarakat muslim, terutama yang sudah berusia lanjut, lebih memilih untuk menjalankan Ibadah Umroh lebih dulu, sambil menunggu antrian untuk melaksanakan Ibadah Haji, sehingga ada peningkatan umat Islam yang melaksanakan Ibadah Umroh.

Jumlah jamaah Umroh dari Indonesia semakin tahun semakin meningkat jumlahnya, tahun 2016 sekitar 1 juta orang Islam dari Indonesia melaksanakan Ibadah Umroh. Hal ini disebabkan karena biasanya, orang yang sudah "merasakan" suasana melaksanakan Ibadah di Tanah Suci, Mekkah dan Medinah, akan selalu ingin merindukan untuk mengulanginya kembali, belum lagi banyak hadits Rasulullah SAW yang menyebutkan keutamaan-keutamaan Ibadah Umroh dan pahala Ibadah di Masjidil Haram di Mekkah dan Masjid Nabawi di Medinah, yang berkali-lipat dibandingkan Ibadah di Masjid Tanah Air.

Peningkatan jumlah umat Islam yang ingin melaksanakan Ibadah Umroh, merupakan peluang usaha bagi perusahaan-perusahaan Tour dan Travel. Sehingga semakin menjamur berdirinya Tour & Travel yang menawarkan jasa/paket Perjalanan Ibadah Umroh. Di satu sisi ini merupakan kabar gembira bagi perusahaan Tour & Travel, di sisi lain, ada beberapa Oknum, yang berusaha memanfaatkan keinginan dan permintaan yang meningkat ummat Islam yang menjalankan Ibadah Umroh, dengan tujuan untuk meraup keuntungan yang sebesar-besarnya, tanpa memperhatikan kualitas pelayanan, bahkan sebagian ada yang bertujuan untuk menipu calon jamaah Umroh.



Untuk melindungi ummat Islam dalam menjalankan Ibadah Umroh dan memastikan ke-amanan dan ke-nyamanan serta menghindari dari penipuan oleh Oknum Tour dan Travel, Pemerintah melalui Kementrian Agama R.I. men-sosialisasikan Program 5 Pasti, yaitu Pasti-kan Travelnya Ber-izin, Pasti-kan Jadwal-nya, Pasti-kan Penerbangannya, Pasti-kan Hotelnya dan Pasti-kan Visa-nya.