Tampilkan postingan dengan label haji mabrur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label haji mabrur. Tampilkan semua postingan

Rabu, 21 September 2016

Benang Merah Pelaksanaan Haji, Resmi dan Ilegal

Setiap musim pelaksanaan Ibadah Haji, pasti kita mendengar beberapa kasus yang menimpa calon jamaah haji, diantaranya : uang calon jamaah haji dibawa kabur oleh biro travel, gagal berangkat karena visa tidak keluar, berangkat dari tanah air tapi tidak sampai ke Tanah Suci dan yang akhir-akhir ini menghebohkan berita di Tanah Air adalah sebanyak 177 calon Jamaah Haji Indonesia digagalkan berangkat haji karena menggunakan Passport (Palsu) Filipina. Hal ini dapat kita pahami karena melaksanakan Ibadah Haji, yang merupakan bagian dari Rukun Islam yang ke 5, adalah cita-cita setiap muslim, karena dengan melaksanakan Ibadah Haji berarti setiap muslim telah menyempurnakan Rukun Iman-nya.

Sebagian besar masyarakat Indonesia tentunya bertanya-tanya bagaimana sebenarnya seluk-beluk pengelolaan Ibadah Haji, sehingga setiap tahun selalu terjadi berbagai masalah yang disebutkan di-atas. Dan ini menjadi tugas utama dari Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Agama R.I. qq Direktorat Jendral Haji dan Umroh untuk memberikan sosialisasi dengan intensif kepada Umat Islam Indonesia, agar tidak lagi terjadi hal-hal yang merugikan umat Islam.

Pemerintah Arab Saudi, sebagai Pelayan 2 Tanah Suci (Hodimul Haramain), Makkah dan Madinah, secara otomatis menjadi Regulator dalam Pengelolaan Ibadah Haji Internasional. Tentunya dengan semakin bertambahnya jumlah umat Islam di dunia, terakhir sekitar 1,5 Milyar penduduk dunia adalah Umat Islam, dan semakin meningkatnya kesadaran keagamaan Umat Islam di dunia semakin besar pula jumlah umat Islam yang ingin menunaikan Ibadah Haji. Sementara dengan keterbatasan yang ada, meliputi tempat pelaksanaan Ibadah Haji (Arofah, Mina dan Masjidil Haram), Akomodasi Hotel dan Jadwal Penerbangan serta waktu pelaksanaan Ibadah Haji yang memang hanya waktu tertentu. Saat ini, sekitar 3 juta jamaah haji yang bisa dilayani untuk setiap tahunnya.

Pemerintah Arab Saudi selalu berusaha untuk melakukan beberapa perbaikan dan pembangunan untuk menambah jumlah jamaah haji yang bisa dilayani setiap tahunnya, misalnya renovasi Masjidil Haram agar bisa menampung lebih banyak jamaah dalam melaksanakan Thawwaf dan Sa’i. Penambahan Armada Bus, sebagai sarana transportasi untuk memindahkan jamaah haji dalam waktu yang singkat dari 3 lokasi yang berbeda, Mina-Arofah-Mudzalifah-Mina dan Masjidil Haram, terakhir sedang dibangun jalur kereta untuk lebih meningkatkan kelancaran pemindahan jamaah haji.
Dari 3 juta orang kuota jamaah haji yang bisa dilayani saat ini, Pemerintah Arab Saudi membaginya kepada setiap negara secara proporsional, termasuk kepada penduduk Arab Saudi sendiri. Jika Jumlah Umat Islam di seluruh dunia sebanyak 1,5 Milyar, asumsi dibagi rata, maka setiap 500 orang umat Islam berhak mendapatkan 1 kuota jamaah haji. Berdasarkan hal di-atas, Kuota Haji setiap negara (yang ada penduduknya ber-agama Islam) ditentukan.

www.safanatour.com


Indonesia dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia, selama ini mendapatkan kuota haji sebanyak 210 ribu orang. Tapi karena adanya renovasi di masjidil haram, 3 tahun terakhir kuota haji Indonesia dipotong menjadi sekitar 180 ribu orang. Karena di Indonesia ada 2 pengelolaan Jamaah Haji, yaitu Haji Reguler, pengelolaan haji dilaksanakan oleh Kementerian Agama R.I. qq Direktorat Haji dan Umroh dan Haji Khusus, yaitu pengelolaan haji yang dilaksanakan oleh Biro Travel Haji yang telah ditetapkan dengan diberi izin sebagai PIHK (Penyelenggara Ibadah Haji Khusus), maka kuota 180 orang haji dibagi 90% atau sekitar 162 ribu untuk Haji Reguler dan 10% atau sekitar 18 ribu untuk Haji Khusus. Sehingga dengan pemotongan kuota ini, antrian jamaah haji semakin panjang, rata-rata sekitar 15 tahun, tergantung daerahnya (Kabupaten/Kota) untuk Haji Reguler, dan sekitar 4 tahun untuk Haji Khusus.

Kondisi semakin lama-nya antrian pelaksanaan Ibadah Haji ini membuka peluang pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab, menjanjikan kepada masyarakat muslim bila mendaftar haji melalui mereka dapat langsung berangkat tanpa antrian. Tentunya hal ini adalah hal yang menggembirakan terutama bagi umat Islam yang sudah lanjut usia. Lantas bagaimana sebenarnya pihak-pihak yang menjanjikan tersebut dapat memberangkatkan calon jamaah haji tanpa antrian.

Sebelum kita membahas bagaimana cara pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab, bisa menjanjikan memberangkatkan calon Jamaah haji tanpa antrian, masyarakat harus mengetahui dulu prosedur pendaftaran dan pemberangkatan Jamaah Haji yang berdasarkan kuota haji resmi dari Pemerintah, baik Haji Reguler maupun Haji Khusus.

Prosedur Pendaftaran Haji Reguler, yang pengelolaannya oleh Kementerian Agama R.I. qq Direktorat Jenderal Haji dan Umroh :
  1. Calon Jamaah Haji Buka tabungan di bank penerima setoran minimal Rp 25 juta;
  2. Bawa buku tabungan ke Kankemenag Kabupaten/Kota domisili;
  3. Bawa beberapa syarat antara lain KTP, Surat Keterangan Sehat, Pas Foto 4x6 (10 lbr);
  4. Sampai di kemenag daftar dengan mengisi SPPH (Surat Permohonan Pergi Haji);
  5. Setelah itu SPPH yang sudah ditandtangani petugas dibawa ke bank;
  6. Sampai di bank serahkan SPPH dan bank akan mendebet rekening yang Rp 25 juta tadi;
  7. Selanjutnya bank akan memberikan hari itu juga print out bukti setoran awal Rp 25 juta yang didalamnya ada Nomor Porsi; atau disebut BPIH (Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji)
  8. Setelah itu printout itu bawa ke Kankemenag kembali untuk registrasi;
  9. Selanjutnya esok hari lihat di www.haji.kemenag.go.id dengan memasukkan nomor porsi untuk melihat perkiraan tahun keberangkatan;
  10. Jika error hubungi bagian Pendaftaran Haji Kemenag Pusat 021-34833924.

Prosedur Pendaftaran Haji Khusus, yang pengelolaannya oleh Biro Travel PIHK (Penyelenggara Ibadah Haji Khusus) :

www.safanatour.com

  1. Calon Jamaah Haji mendatangi Biro Travel Haji yang sudah ditetapkan sebagai PIHK dapat dilihat di website Kementerian Agama R.I., contoh PT Safana Nabilla Wisata (Safana Tour) yang telah ditetapkan sebagai PIHK (Penyelenggara Ibadah Haji Khusus);
  2. Biro Travel PIHK (Safana Tour) akan memberikan penjelasan persyaratan yang dibutuhkan oleh calon Jamaah Haji, antara lain, KTP, Surat Keterangan Sehat dan Pas Foto 4x6 (10 Lbr) dll.;
  3. Persyaratan yang telah lengkap akan dibawa oleh Petugas Travel Haji (Safana Tour) ke Kanwil Kementerian Agama R.I. untuk mendapatkan SPPH.
  4. Setelah mendapatkan SPPH, Petugas Biro Travel Haji (Safana Tour) akan meminta Calon Jamaah Haji untuk melakukan pembayaran setoran Awal BPIH sebesar USD 4.000,- ke Rekening Kementerian Agama di Bank Penerima Setoran (BPS) BPIH dan sebesar USD 500,- ke Rekening Biro Travel Haji (Safana Tour) sebagai DP Haji Khusus. Pastikan jika Biro Travel Haji (Safana Tour) meminta Calon Jamaah Haji menyetorkan dana ke Rekening atas nama Perusahaan (PT Safana Nabilla Wisata) bukan rekening Pribadi.
  5. Biro Travel Haji (Safana Tour) akan memberikan Copy BPIH yang terdapat nomor Porsi kepada Calon Jamaah Haji.
  6. Calon Jamaah Haji dapat menge-cek perkiraan keberangkatan di www.haji.kemenag.go.id

Prosedur Pemberangkatan Calon Jamaah Haji Reguler dan Khusus :
  1. Pemerintah bersama dengan DPR setiap tahun sebelum proses administrasi Haji menetapkan besarnya BPIH.
  2. Kementerian Agama R.I. qq Direktorat Jenderal Haji dan Umroh akan memberitahu Nomor Porsi Calon Jamaah Haji yang dapat berangkat setiap tahun, dan meminta Calon Jamaah Haji untuk melunasi kekurangan BPIH, Haji Reguler langsung menyetorkan ke BPS BPIH Awal, untuk Haji Khusus melalui Biro Travel Haji (Safana Tour) akan diberitahu dan diminta menyetorkan kekurangan BPIH.
  3. Jika karena suatu hal, masih ada nomor porsi calon jamaah haji yang tidak melunasi BPIH (tidak berangkat), misal karena calon jamaah haji hamil, sakit atau meninggal dunia. Kementerian Agama R.I. akan memberitahu Nomor Porsi- selanjutnya untuk melakukan Pelunasan BPIH.
  4. Selanjutnya proses Administrasi (passport, visa haji dll.) dan Manasik Haji dilaksanakan oleh Kementerian Agama R.I. untuk Haji Reguler dan Biro Travel Haji (Safana Tour) untuk Haji Khusus.
  5. Calon Jamaah Haji sambil menunggu hari keberangkatan ke tanah suci, diharapkan menjaga kesehatan dan kebugaran, karena Ibadah Haji merupakan Ibadah yang membutuhkan Fisik yang bugar.
  6. Calon Jamaah Haji Reguler biasanya diinapkan semalam di Embarkasi Haji sebelum keberangkatan. Untuk Calon Jamaah Haji Khusus dapat meminta copy tiket penerbangan ke Biro Travel Haji, agar menyiapkan barang-barang jauh-jauh hari.

Note : Pastikan Calon Jamaah Haji, setiap melakukan pembayaran kekurangan BPIH adalah melalui rekening Bank yang resmi atas nama Perusahaan yang nama-nya harus sama dengan Perusahaan yang ditetapkan dalam PIHK misal, PT Safana Nabilla Wisata.

Sekarang kita membahas bagaimana cara-cara yang ditempuh selama ini oleh Pihak yang menjanjikan bisa memberangkatkan Ibadah Haji tanpa antrian.
Pertama yang harus kita ketahui adalah untuk masuk ke Negara Saudi, terutama Makkah dan Madinah, tempat pelaksanaan Ibadah Haji yang dibutuhkan setiap orang adalah Visa (ijin untuk memasuki negara). Visa inilah yang berusaha dicari oleh Pihak-pihak yang menjanjikan dapat memberangkatkan haji tanpa antrian. Ada beberapa macam visa yang digunakan pihak-pihak di-atas, yaitu :

1. Visa Haji
Jenis Visa ini adalah visa yang resmi diperbolehkan seseorang untuk melaksanakan Ibadah Haji. Tapi karena kita tidak mengetahui berapa jumlah sebenarnya visa haji yang telah dikeluarkan oleh Pemerintah Saudi Arabia, beberapa pihak menjanjikan bisa mendapatkan Visa Haji, biasanya ini di-inisiasi oleh Pihak-pihak yang mengaku dekat dengan Pihak Kedutaan Saudi Arabia atau Keluarga Kerajaan, sehingga mereka bisa memanfaatkan sisa visa haji yang tidak digunakan oleh calon jamaah haji dari seluruh dunia. Biasa-nya visa haji ini tidak dapat di-pastikan-kan, baik jumlah yang bisa didapatkan ataupun kepastiannya.
Jika Calon Jamaah Haji bisa mendapatkan Visa Haji ini, berarti sudah mendapatkan izin pemerintah Saudi untuk melaksanakan Ibadah Haji, hanya tidak termasuk dalam kuota Haji Kementerian Agama R.I. qq Dirjen Haji dan Umroh. Di kalangan Biro Travel Haji disebut Haji Furoda (Haji Mandiri).

2. Visa Umal (Pekerja Musiman)
Jenis Visa ini adalah Visa yang dikeluarkan Pemerintah Saudi untuk Para Pekerja Musiman (Haji), karena memang saat musim Haji, Pemerintah Saudi membutuhkan banyak tenaga kerja musiman karena banyaknya Tamu Allah yang harus dilayani. Oleh sebagian Perusahaan (Muasassah) di Saudi Arabia, disalahgunakan, mereka meminta kuota pekerja musim (Umal) yang melebihi dari kebutuhan sesungguhnya, dengan harapan kelebihan visa umal-nya bisa diperjualbelikan untuk calon jamaah haji memasuki Saudi Arabia. Visa Jenis ini hanya diberikan untuk jenis kelamin lelaki/pria dengan usia maksimal 55 tahun, karena memang diperuntukkan untuk pekerja.
Dan karena diperuntukkan untuk pekerja, Calon Jamaah Haji yang menggunakan Visa Umal ini, hanya diperkenankan di Mekkah (tempat pelaksanaan Ibadah Haji) dan tidak diperkenankan menggunakan kain ihram saat memasuki kota Mekkah. Sehingga biasanya Calon Jamaah Haji yang menggunakan visa ini, harus membayar Dam (denda) minimal 2 kali, karena Haji Tamathu dan karena memasuki kota Mekkah tidak dengan Ihram (Umroh). Dan hal yang diperhatikan juga untuk Visa Jenis ini, saat tiba di Jeddah (Bandara terdekat dari Kota Mekkah) dijemput oleh Pihak Muasassah agar dapat memasuki Kota Mekkah.

3. Visa Ziarah
Visa Ziarah ini sebenarnya diperuntukkan untuk orang yang akan melakukan perjalanan wisata bukan untuk Ibadah Haji atau Pekerja Musim dan biasanya berlaku untuk waktu yang lama sekitar 4 (empat) bulan. Visa ini bisa dikeluarkan untuk Laki-laki dan Wanita. Dan karena peruntukkannya untuk Ziarah/Wisata, bandara yang menjadi tujuan untuk memasuki negara Saudi adalah Riyadh atau Kota lain selain Jeddah dan Madinah. Jadi calon jamaah haji yang menggunakan visa ziarah ini, terbang dari Indonesia, bisa transit atau langsung ke Bandara Riyadh, tentunya Biro Travel Haji memberikan briefing kepada calon jamaah haji, jika ditanya oleh petugas Imigrasi di Riyadh, menjawab tujuan Wisata, jangan sampai menjawab tujuannya Haji (pasti akan ditangkap). Setelah lolos dari Pemeriksaan Imigrasi di Riyadh, berarti sudah memasuki Negara Saudi, Rombongan Calon Jamaah Haji dengan Visa ini akan menuju Jeddah dengan menggunakan Penerbangan Domestik, agar tidak diperiksa Imigrasi Jeddah, dan sudah ada Pihak Saudi yang akan menjemput Rombongan Calon Jamaah Haji ini. Dan dengan modus yang sudah mereka pelajari, Pihak Saudi membawa Rombongan ini memasuki Kota Mekkah (tempat pelaksanaan Ibadah Haji).

4. Visa Haji Negara Lain
Cara ini digunakan dengan memanfaatkan kuota haji negara lain yang tidak digunakan, sedikit antrian Calon Jamaah Haji-nya. Kasus yang baru-baru ini terungkap adalah dengan menggunakan kuota haji negara Filipina. Cara ini dilakukan tentunya bekerjasama dengan pihak-pihak di negara kuota yang akan digunakan. Dengan menggunakan visa jenis ini, calon jamaah haji, harus berpindah warga negara, menjadi warga negara yang akan digunakan kuotanya, sehingga dapat dibuatkan Passport sebagai syarat penggunaan kuota haji nya. Sehingga calon jamaah haji dengan metode ini, sebelum musim haji, harus datang ke negara tujuan penggunaan kuota untuk membuat passport bekerjasama dengan pihak dalam negerinya. Setelah Passport jadi dan mendapatkan visa haji negara tersebut, baru calon jamaah haji berangkat lagi ke negara tersebut, selanjutnya passportnya diganti dengan Passport negara tersebut yang telah mendapatkan visa haji. Jadi calon Jamaah haji akan berangkat dari negara tersebut dan juga dianggap sebagai warga negara tersebut, sehingga Tenda di Arofah dan Mina akan bersama dengan warga negara asli negara tersebut. Biro Travel biasanya akan memberikan briefing kepada calon jamaah haji dengan visa ini, agar tidak terlalu banyak bicara saat berada di Arofah dan Mina, karena akan menimbulkan kecurigaan warga asli negara tersebut.

Demikianlah cara-cara yang digunakan oleh Biro Travel, biasanya tidak mempunyai Izin Umroh & Haji, untuk memberangkatkan calon jamaah haji dengan tanpa antrian. Sekali lagi yang perlu diketahui oleh Para Calon Jamaah Haji, cara-cara diatas di-samping melanggar aturan dan prosedur yang ada juga tidak ada kepastian akan keluarnya visa yang dijanjikan, karena memang tidak ada suatu hal yang dapat dijadikan patokan. Disamping itu tentunya Calon Jamaah Haji akan diliputi rasa tidak nyaman dalam beribadah, dan juga mudah atau rentan dilakukan penipuan oleh Biro Travel yang tidak bertanggung jawab, mereka mudah melakukan penipuan karena tidak ada pihak yang mengontrol mereka, karena perusahaan bisa dengan mudah bubar dan diganti dengan mendirikan perusahaan baru.

Oleh karena itu sebaiknya calon jamaah haji, menggunakan Biro Travel Haji yang sudah mendapatkan Izin sebagai PIHK oleh Kementerian Agama R.I. Dalam Ibadah Haji tentunya kita ingin melaksanakannya dengan penuh kenyamanan tanpa ada rasa was-was atau takut di-Razia. Dan mendapatkan Haji Mabrur, yang balasannya Surga, adalah tujuan dan keinginan kita dalam melaksanakan Ibadah Haji.

Semoga artikel ini membantu kita dalam memahami seluk-beluk Ibadah Haji dan permasalahannya, agar kita terhindar dari penipuan dan hal-hal yang tidak kita harapkan dalam melaksanakan Ibadah Haji. Agar lebih bermanfaat bagikan Artikel ini kepada orang-orang terdekat kita, sehingga semakin banyak umat Islam yang terselamatkan dari penipuan dan hal-hal yang merugikan mereka.


Ditulis oleh : H. Komarudin, Owner Biro Travel Umroh dan Haji, dari pengalaman dan berbagai sumber.

Jumat, 16 September 2016

Asal Muasal Gelar Haji bagi Umat Islam Indonesia, sebuah sejarah kelam

Saat ini lebih dari 3 (tiga) juta umat Islam dari seluruh dunia menjalankan Rukun Islam yang terakhir di Tanah Suci. Mereka semua menjalankan ibadah haji untuk menyempurnakan Islamnya dan kembali ke Tanah Air dalam keadaan yang lebih baik baik dari segi keislaman maupun segala tindak tanduk-tanduknya.

Ngomong-ngomong masalah ibadah haji, pernahkah Anda bertanya kenapa harus ada gelar "haji" di depan nama seorang yang habis pulang haji. Jika tidak menggunakan gelar itu, apakah hajinya jadi tidak sempurna? Lantas, dari mana datangnya gelar haji yang selalu identik dengan “kebesaran” itu datang? Yuk, kita simak penjelasannya di bawah ini.



Perihal Pemberian Gelar Haji di Indonesia dan Malaysia

Satu hal yang harus kita tahu, gelar haji di depan nama hanya ada di Indonesia dan juga Malaysia. Di belahan bumi mana pun seperti negara kawasan Timur Tengah seperti Mesir, Iran, Qatar, bahkan Arab Saudi sekali pun tidak memberikan gelar “haji” di depan nama orang yang menuntaskan Rukun Islam ke-5 itu.

Tradisi pemberian gelar nama juga tidak ada pada zaman Rasulullah. Di kala itu, beliau dan para sahabat-sahabatnya tidak menyematkan gelar kehajiannya di depan nama. Bagi mereka, melakukan haji adalah sebuah kewajiban (bagi yang mampu), sehingga tidak perlu ada gelar-gelaran seperti yang terjadi di Indonesia dan Malaysia.

Gelar Haji Adalah Konspirasi Belanda

Banyak dari kita tidak tahu bahwa gelar haji adalah konspirasi orang-orang Belanda di masa penjajahan. Gelar ini pertama kali disematkan pada tahun 1900-an. Hal ini dilakukan Belanda karena orang Islam di masa itu sangatlah berbahaya. Mereka takut jika para petinggi yang memiliki gelar haji ini bisa mengumpulkan massa lalu menyerang Belanda secara diam-diam.

Di masa itu, orang yang sudah memiliki gelar haji adalah Hasyim Asyari yang akhirnya mendirikan Nahdlatul Ulama, lalu HOS Cokroaminoto yang akhirnya mendirikan Sarekat Islam, dan masih banyak lagi para tokoh yang sudah berangkat haji dan pulang menjadi seorang pejuang. Mereka menyebarkan Islam juga memberantas para penjajah seperti Belanda.
Pendataan Para Haji untuk Kewaspadaan
Seperti yang telah dicuplik di atas, gelar haji diberikan oleh Belanda kepada para tokoh yang dianggap berbahaya. Pemberian gelar ini akan membuat para tokoh terdata dengan jelas. Siapa saja dengan gelar haji bisa diamati dengan baik setiap harinya sehingga Belanda tidak akan pernah mengalami apa yang namanya kecolongan dalam hal pertarungan.

Sebelum pemberian gelar ini dilakukan, Belanda sudah beberapa kali mendapatkan serangan dari tokoh Islam yang cukup membuat mereka kerepotan. Mereka sebenarnya sudah berangkat haji, namun tidak memiliki gelar itu di depan namanya. Hal ini membuat Belanda kerap kebingungan sehingga mereka banyak mengalami kematian pada pasukan dan stok senjatanya menipis. Oh ya, tokoh Islam yang juga pernah berhaji namun tidak bergelar haji adalah Pangeran Diponegoro yang sangat dibenci Belanda.

Isolasi, Pendataan, dan Pembunuhan Haji

Dahulu kala, perjalanan ibadah haji hanya bisa dilaksanakan dengan kapal laut saja. Selama berbulan-bulam, para calon jemaah melakukan perjalanan sehingga saat pulang kerap mengalami sakit yang cukup parah. Saat Belanda masih menguasai Indonesia, para jemaah yang kembali haru masuk ke pulau Onrust terlebih dahulu. Di sana ada rumah sakit untuk mengarantina mereka.

Selain untuk karantina, mereka juga didata secara mendetail di sini. Mereka yang dianggap mencurigakan akan diam-diam dibunuh dengan suntikan mati. Merek yang tidak berbahaya akan dibiarkan hidup bersama titel haji di depan namanya. Dengan adanya titel ini, Belanda kan dengan mudah mengawasi mereka dari kejauhan.

Gelar haji sebenarnya bukanlah sesuatu yang vital seusai mengunjungi Tanah Suci. Dalam Islam juga tidak ada dalil untuk pemberian gelar itu. Selain itu, pemberian gelar haji dikhawatirkan bisa menimbulkan adanya rasa lebih berkuasa atau rasa lebih islami dibanding mereka yang belum menunaikan rukun kelima dari Islam itu.

source : log.viva.co.id

Kamis, 15 September 2016

Ciri dan Kiat Mendapatkan Haji Mabrur, Keinginan Setiap Muslim


أنَّ رسول اللهِ صلى الله عليه وسلم قال: الحَجُّ المَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الجَنَّةَ 
(متفقٌ عليه عن أبى هريرة )

Rasulullah Saw bersabda: “Haji mabrur itu tidak ada balasannya kecuali surga”. (Muttafaqqun ‘alaih, dari Abu Hurairah ra)

1. Pengertian Haji Mabrur

Dalam kitab Lisan al-‘Arab (IV/51), kata mabrur mengandung dua arti:
Pertama, mabrur berarti baik, suci dan bersih. 
Dalam pengertian ini, haji mabrur adalah haji yang dilaksanakan dengan baik, tidak diperbuat di dalamnya hal-hal yang dilarang seperti berkata kotor, berbuat fasik dan menyakiti atau mengganggu orang lain termasuk menyuap orang untuk kemudahan amalnya sementara orang lain mendapatkan kesulitan karenanya. Di samping itu, bekal yang dibawa untuk berhaji adalah bekal yang halal dan bersih.
Kedua, mabrur berarti maqbul atau diterima dan diridhai oleh Allah Swt. 
Dalam hal ini, haji mabrur adalah haji yang tata caranya dilakukan dengan baik dan benar sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya dan memperhatikan syarat-syarat dan rukunnya serta hal-hal yang wajib diperhatikan dalam berhaji.
Dari dua pengertian tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan haji mabrur adalah haji yang diterima dan diridhai oleh Allah Swt karena ibadah hajinya telah dilakukan dengan baik dan benar serta dengan bekal yang halal, suci dan bersih. 

safanatour.com/haji mabrur


2. Siapakah Orang yang Berhasil Meraih Haji Mabrur?

Tentang siapa orangnya yang berhasil meraih haji mabrur, agaknya hal ini menjadi rahasia Allah Swt. Bisa jadi tidak banyak.
Imam al-Ghazali dalam kitabnya Ihya ‘Ulum al-Din (Vol.I/ 341) mengisahkan perjalanan seorang ‘Alim yang shalih sedang menempuh perjalanan haji. Namanya ‘Ali bin al-Muwaffiq. Dikisahkan:
“Pada suatu malam, tanggal 8 malam 9 Dhu al-Hijjah (malam hari ‘Arafah) ia tertidur di masjid al-Khaif Mina. Dalam tidurnya ia bermimpi melihat dua malaikat sedang berdialog. Malaikat yang satu berbicara kepada malaikat yang lain: “Hai teman (Abdullah), tahukah engkau berapa banyak orang yang pergi haji tahun ini?”. Malaikat yang lain menjawab: “Tidak tahu!”. Kemudian temannya tadi memberitahu bahwa mereka itu jumlahnya mencapai 600.000 jamaah. Kemudian ditanya lagi: “tahukah kamu berapa orang di antara mereka itu yang meraih haji mabrur ?”. Tidak tahu!, jawab temannya. Kemudian temannya itu menjelaskan bahwa yang meraih mabrur/ maqbul hajinya itu hanya 6 orang. Sampai dialog ini, dua malaikat itu pun pergi. Setelah itu ‘Ali bin al-Muwaffiq pun terbangun dari tidurnya dengan penuh penasaran, sedih dan gelisah.
Dalam hatinya bertanya: “Jika hanya 6 orang yang diterima hajinya dari 600.000 jamaah, apakah aku bisa masuk yang enam orang itu?”. Demikianlah ia terus menerus merenungkan dan berusaha mencari tahu makna di balik mimpinya itu. Selanjutnya ia berusaha melakukan ibadah hajinya dengan sebaik mungkin agar berhasil masuk dalam kelompok 6 (enam) orang yang hajinya mabrur itu.
Kisah ini tidak jelas kapan terjadi dan seberapa jauh kebenarannya, karena tak seorang pun sejarawan yang membuktikan fakta kebenaran kisahnya. Terlepas dari benar tidaknya kisah tersebut, al-Ghazali yang dikenal sebagai ulama yang amat masyhur dan mendapat julukan “Hujjatul Islam” itu telah mencatat dalam Kitabnya yang amat monumental dan berpengaruh di kalangan orang-orang yang mendalami masalah-masalah spiritualitas. Sekurang-kurangnya yang dapat diambil hikmah dari kisah tersebut adalah agar setiap orang yang menunaikan ibadah haji selalu menata dan meluruskan niatnya, melakukan ibadah hajinya dengan baik dan benar serta selalu berusaha dan berdoa agar ibadahnya diterima oleh Allah Swt. Wallahu a’lam bi al-shawab!

3. Beberapa Indikator Haji yang Mabrur
Tidak mudah untuk mengetahui siapa-siapa yang berhasil meraih haji mabrur. Namun demikian, Rasulullah Saw pernah memberikan beberapa indikatornya. Dalam sebuah hadits diterangkan sebagai berikut:
عَنْ جَابِرٍ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: اَلْحَجُّ الْمَبْرُوْرُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌُ إِلاَّ الْجَنَّةَ قِيْلَ وَمَا بِرُّهُ ؟
 قَالَ إِطْعَامُ الطَّعَامِ وَطِيْبُ الْكَلاَمِ 
(رواه أحمد والطبرانى وغيره)
Artinya: Dari Jabir ra. Nabi Saw bersabda: “Haji mabrur itu tidak ada balasannya kecuali surga”. Rasul ditanya: “Apa tanda-tanda mabrurnya?”. Nabi Saw menjawab: “Suka membantu memberikan makanan dan santun dalam berbicara” (HR. Ahmad, al-Tabrani, dan lain-lain). 
Muhammad Nashiruddin Al-Albani mengatakan hadits ini shahih lighairih (Shahih al-Targhib wa al-Tarhib, II/3)
Imam al-Nawawi dalam Kitab al-Idhah Fi Manasik al-Hajj wa al-‘Umrah hal 516, mengatakan :
اَلْحَجُّ الْمَقْبُوْلُ هُوَالَّذِيْ يَنْبَغِيْ أَنْ يَكُوْنَ بَعْدَ رُجُوْعِهِ خَيْرًا مِمَّا كَانَ
Artinya: Haji mabrur itu tanda-tandanya adalah setelah ia pulang dari haji, keadaannya lebih baik daripada sebelumnya
Dari keterangan hadits Nabi Saw dan penjelasan Imam al-Nawawi tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa indikator ke-mabrur-an haji seseorang itu dapat dilihat dari tiga hal:

Pertama, suka memberi makanan (إطعام الطعام ). 
Perkataan “memberi makanan” ini harus difahami lebih luas, yaitu kesediaan untuk berbagi rasa dengan sesama serta kesanggupan untuk menyumbangkan sebagian harta kita kepada fakir miskin atau kaum dhu’afa. Dalam hal ini termasuk membantu dalam hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan, kesehatan (pengobatan), sandang, pangan maupun papan.
Membantu orang-orang miskin termasuk hal terpenting dalam beragama. Allah bahkan terang-terangan menyebut sebagai pendusta agama, bagi orang yang tidak mau membantu orang-orang miskin dan menyayangi anak yatim. (QS. Al-Ma’un, ayat 1-3).
Dikisahkan bahwa ada seorang ‘alim tertidur pulas di bawah pohon dalam menempuh perjalanan spiritualnya, mencari makna kearifan hidup. Ia bermimpi bertemu malaikat yang memberitahukan kepadanya bahwa di antara sekian banyak orang yang naik haji hanya satu yang berhasil meraih haji mabrur, sambil memberi tahu ciri-ciri orang yang beruntung itu. Setelah ia terbangun, segera mencari orang yang dimaksud itu. Betapa terkejutnya, ternyata orang itu tidak menunaikan ibadah haji di musim haji tahun itu. Maka ia berusaha mencari tahu apa rahasianya sehingga ia mendapat gelar atau pahala sekelas haji mabrur. Setelah beberapa hari menginap di rumah orang itu, ia tidak menemukan hal-hal yang istimewa dari orang itu. Ibadahnya biasa-biasa saja. Akhirnya, orang itu cerita bahwa dulu pernah berniat menunaikan ibadah haji dan mengumpulkan bekal sedikit demi sedikit dari keringatnya sendiri. Setelah bekal itu cukup dan hendak digunakan untuk berangkat haji, tiba-tiba ada orang miskin yang sangat membutuhkan bantuannya. Karena ia tak tega melihat penderitaan si miskin itu, ia pun memberikan bekal hajinya itu untuk keperluan dan hajat si miskin, sehingga ia tidak jadi menunaikan ibadah haji.
Demikianlah kisahnya, ia tak jadi berangkat haji, tetapi malah mendapat predikat haji mabrur. Bagaimana hal ini bisa terjadi? Dalam hadits shahih al-Bukhari dan Muslim, Nabi Saw bersabda:
فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْ بِهَا كَتَبَهَا اللهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً
 (متفق عليه)
Artinya: “Barangsiapa berniat melakukan kebaikan (misalnya niat haji), kemudian ia tidak jadi melakukannya, maka ia dicatat oleh Allah mendapatkan pahala kebaikan (haji) yang sempurna”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Berangkat dari hadits ini, agaknya sangat relevan dengan kisah tersebut di atas (walaupun belum tentu kisah tersebut faktual), yaitu orang yang telah lama berniat haji dengan mengumpulkan bekal dari keringatnya, tetapi karena ada orang miskin yang amat membutuhkan dan meminta bantuan kepadanya, bekal untuk hajinya itu diperbantukan kepadanya, sehingga ia tidak jadi naik haji tahun itu. Kesediaannya untuk membantu orang miskin itulah yang menyebabkan ia berhak menyandang gelar haji mabrur. Karena itu, walaupun ia tidak jadi naik haji, tetapi karena ia telah berbuat kebaikan sebagaimana orang yang meraih haji mabrur, maka layaklah bila ia meraih pahala haji mabrur. Wallahu a’lam!

Kedua, bertutur kata yang lembut (وطيب الكلام). 
Menurut al-Ghazali, kata-kata ini di samping bisa difahami bertutur kata yang baik, juga berarti berbudi pekerti yang luhur atau berakhlak yang mulia. Prilaku ini nampak pada orang-orang yang beribadah haji, baik saat berhaji maupun sesudahnya.
Akhlak yang mulia ini nampak pada tutur katanya yang lembut, baik dan bersahaja. Tidak suka menyinggung dan menyakiti orang lain. Kalau berbicara kalimatnya sederhana, disesuaikan dengan orang yang diajak bicara. Raut mukanya diusahakan cerah, manis dan simpatik sehingga orang lain senang berbicara dan bergaul dengannya. Lidah dan tangannya dikendalikan sedemikian rupa agar tidak mengganggu orang lain.
Dalam haji, banyak orang tergoda untuk melakukan kesempurnaan ibadahnya baik yang rukun, wajib maupun sunnahnya dengan berbagai cara. Ketika hendak mencium hajar aswad misalnya, banyak orang yang secara egois berusaha keras dengan cara menyingkirkan orang lain bahkan menyakitinya agar dia sendiri berhasil mencium hajar aswad itu. Dia tidak sadar bahwa ketika ia hendak meraih hajar aswad itu ia telah menyakiti banyak orang. Menurut agama, menyakiti orang lain itu hukumnya haram, sedangkan mencium hajar aswad itu hanyalah sunnah hukumnya. Perilaku ini termasuk akhlak yang rendah dan tidak sepantasnya dilakukan oleh orang yang sedang berhaji.
Orang yang akan meraih haji mabrur indikatornya mulai nampak pada saat ia berhaji. Ia tidak ingin mengganggu orang lain, tetapi ia malah berusaha untuk membantu dan memberikan kemudahan kepada orang lain sesama jama’ah haji. Hal ini nampak pada saat keberangkatan haji, naik kendaraan, antri pemeriksaan paspor, mencari kamar penginapan di hotel dan saat-saat pelaksanaan ibadah haji dari ketika ihram, wuquf di ‘Arafah, Muzdalifah, di Mina dan melempar jamarat, thawaf dan sa’i. Ia berusaha menghindari pertengkaran, berkata kotor dan berbuat fasik.
Nabi Saw. bersabda:
مَنْ حَجَّ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمَ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ
(متفق عليه)
Artinya: “Barangsiapa yang menunaikan ibadah haji sedang ia tidak berkata kotor dan tidak melakukan kefasikan maka ia kembali pulang dalam keadaan bersih seperti saat ia dilahirkan oleh ibunya” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Inilah janji Allah dan RasulNya.
Bagi orang yang ingin meraih haji yang mabrur maka ia harus berusaha untuk dapat mengendalikan dirinya, lidahnya, tangannya agar tidak mengganggu orang lain. Sebaliknya ia seyogyanya berusaha untuk dapat membantu dan memberikan kemudahan kepada orang lain.

Ketiga, setelah pulang haji kehidupannya menjadi lebih baik daripada sebelum haji.
Indikator yang ketiga ini justru menjadi ukuran yang paling penting, karena apa yang dikatakan Imam al-Nawawi bahwa tanda-tanda ke-mabrur-an ibadah haji seseorang adalah kehidupannya setelah haji menjadi lebih baik ketimbang keadaannya sebelum haji, sebenarnya mengandung makna yang selaras dengan perkataan Nabi Saw. bahwa tanda-tanda ke-mabrur-an haji seseorang itu adalah suka membantu, memberikan makan orang lain dan suka bertutur kata yang lembut hingga orang lain banyak yang suka kepadanya. 
Maksudnya, untuk mengetahui keadaan seseorang yang yang hajinya mabrur, dapat dilihat dari pola kehidupannya setelah pulang haji. Apakah ia setelah pulang dari hajinya kemudian suka membantu orang miskin, suka memberi makan, membantu pengobatan dan pendidikan serta memberikan pakaian dan kebutuhan lainnya? Apakah ia juga berusaha bertutur kata yang lembut, baik, santun dan bersahaja. Tidak tinggi hati, tidak sombong, tidak meremehkan orang lain? Apakah ia berusaha menghindarkan diri dari perkataan atau perbuatan yang dapat menyebabkan orang lain terganggu atau tersakiti? Apakah ia juga berusaha untuk dapat membantu dan memberikan kemudahan kepada orang lain? 
Jika semuanya itu dapat dilakukan dengan baik, maka tanda-tanda ke-mabrur-an haji telah melekat pada dirinya. Insya Allah !

4. Usaha-usaha untuk Meraih Haji Mabrur
Setelah mengetahui apa itu haji mabrur dan bagaimana indikatornya, maka berikutnya adalah bagaimana cara atau kiat-kiat meraih haji mabrur itu. 
Dalam hal ini ada beberapa langkah yang dapat dilakukan:
1) menata niat (haji) yang benar, lurus dan ikhlas semata-mata untuk memenuhi panggilan Allah; 
2) menyiapkan bekal haji (ONH/BPIH) yang cukup dan bersih dari harta yang haram maupun syubhat;
3) mempelajari manasik haji dengan baik dan benar agar tidak keliru dalam menunaikan ibadah haji;
4) membiasakan bersedekah sejak sebelum berangkat haji, pada saat musim haji maupun setelah pulang haji. Terutama membantu meringankan beban derita yang dialami orang-orang miskin atau kaum dhu’afa lainnya;
5) berusaha untuk bertutur kata yang lembut, baik dan bersahaja. Menghindarkan diri dari pertengkaran, sikap tinggi hati, meremehkan orang lain. Menjauhkan diri dari perbuatan yang dapat mengganggu dan menyakiti orang lain, sebaliknya berusaha membantu dan memberikan kemudahan kepada orang lain.

Wallahu’alam.. sumber : rumaysho.com

Semoga Jamaah PT Safana Nabilla Wisata yang saat ini sedang menunaikan Ibadah Haji, mendapatkan Haji Mabrur dan kembali ke Indonesia, untuk menjadi pelopor kebaikan.. Aamiin Ya Rabbal ‘Alaamiin.
Bagi yang sudah punya niat, segera daftarkan ke PT Safana Nabilla Wisata (Safana Tour), Travel yang telah mendapatkan Ijin Resmi dari Kemenag R.I. sebagai Penyelenggara Umroh (PPIU) dan Haji Khusus (PIHK).

Sabtu, 10 September 2016

HAJI ADALAH ARAFAH

Arafah adalah Hari Perenungan…
Sebuah perenungan tentang Sang Khalik…
Sebuah perenungan tentang untuk apa kita diciptakan…

wukuf arofah safanatour.com


Arafah adalah sebuah potret kecil tentang Mahsyar…
Mahsyar adalah sebuah hari dimana manusia akan ditimbang kadar Al-Haq dalam dirinya…
Mahsyar adalah sebuah hari yang sangat terik yang tidak ada penghalang atasnya…
Mahsyar adalah sebuah hari yang mencekam dimana manusia ditimpa resah dan gelisah…
Kegelisahan yang teramat sangat karena Mahsyar adalah hari penantian tentang nasib manusia apakah ia akan masuk surga atau neraka…
Mahsyar adalah sebuah hari penyesalan…
Sebuah penyesalan karena manusia telah lalai menunaikan dharma untuk apa ia dicipta…
Sebuah penyesalan karena manusia lalai untuk beramal shaleh semasa hidup di alam dunia…

Sedemikian dahsyatnya Mahsyar, sehingga manusia kelak akan mencari perlindungan walau hanya pada sebutir kurma yang pernah ia sedekahkan…
Maka, beruntunglah mereka yang Allah beri naungan dari dahsyatnya alam Mahsyar…
Mereka adalah pemimpin yang adil…
Para pemuda yang hatinya tertambat kepada masjid…
Manusia yang bersahabat karena Allah… Manusia yang bersedekah dengan tangan kanannya tanpa harus diketahui oleh tangan kirinya…
Manusia yang menolak perbuatan keji karena takut akan Tuhannya…
Manusia yang tekun ibadahnya seraya berlinang air mata ketika ia berdzikir semata karena takut akan Tuhannya…

Selamat Hari Arafah sahabat”ku seiman…
Semoga Allah mengampuni kehinaan dan kebodohan kita…
Semoga Allah selalu menjadikan kita orang yang rendah hati di setiap langkah kaki di bumi ini…
Semoga Allah meneguhkan iman dan Islam kita…
Mengganti tangisan kita dengan senyuman…
Luka derita dengan kebahagiaan… Kesempitan rezeki dengan kelapangan… Kesesatan dengan petunjuk…
Penyakit dengan kesembuhan…
Kesulitan dengan kemudahan…
Dan keputusasaan dengan harapan..

Subhanallah walhamdulillah wala ilaha illallah wallahu akbar Walahaulawala Quwwata illabilla hil ‘aliyil ‘azhim. Allahumma sholli ‘ala Muhammad, wa ‘ala ali Muhammad.
Astaghfirullahal ‘azhim wa atubu ilaih.

RENUNGAN MINA, KITA ADALAH TAMU DI DUNIA

لبيك اللهمّ لبيك...
لبيك لا شريك لك لبيك...
إنّ الحمد ... و النعمة... لك و الملك... لا شريك لك...

Karena kita tamu maka kehadiran kita hanyalah sementara.
Kaya atau miskin hanyalah sementara.
Segala kejayaan atau kegagalan hanyalah sekian puluh tahun.
Jabatan, kedudukan, popularitas dan  kemuliaan tidak selamanya.
Tidak ada presiden atau raja selamanya.
Tidak ada direktur atau manager yang abadi, sebab kita semua hanya tamu.



Karena tamu, begitu waktunya tiba, kita semua harus beranjak pergi...
Semua harta benda, emas permata, rumah dan kendaraan hanyalah pinjaman.
Walaupun semua aset adalah hasil jerih payah keringat kita,
Walaupun kita mempunyai surat kepemilikan yang sah dan semua harta benda atas nama kita secara hukum,


Namun semuanya hanyalah kepemilikan sementara,
Hanyalah pinjaman!!

Karena pinjaman, begitu waktunya tiba, harus dikembalikan.
Semua yang ada di badan kita,
yang terkalung di leher, terselip di jari, yang dikenakan di pergelangan tangan, yang tersimpan di saku, semua harus dikembalikan sama seperti ketika kita belum memilikinya!

"Ketika lahir dua tangan kita kosong, ketika meninggal kedua tangan kita juga kosong..."

Waktu datang kita tidak membawa apa-apa,
Waktu pergi kita juga tidak membawa apa pun

Jangan sombong karena kaya dan berkedudukan, jangan minder karena miskin dan hina, bukankah kita semua hanyalah tamu dan semua milik kita hanyalah pinjaman!!

Tetaplah rendah hati seberapapun tinggi kedudukan kita...
Tetaplah percaya diri seberapapun kekurangan kita.....
Dan tetaplah bersyukur dalam segala keadaan…

Ya Allah, ampunillah dosa dan kekhilafan kami dan jadikanlah kami hamba yang selalu bersyukur atas segala nikmat yang Engkau berikan...

Ya Allah, buanglah dan jauhkan kami dari sifat buruk ; SOMBONG, ANGKUH, DZOLIM, HASAD, DLL



Ya Allah, saat ini kami di Mina bersama para jamaah haji dari seluruh penjuru dunia, maka anugrahkanlah kepada kami, sebagaimana Engkau telah menganugrahkan kepada para aulia dan orang- orang yang taat kepadaMu...
Amiiin Allahumma Amiin...

Met Tarwiyah di Mina Al Mubarokah
Met Shaum Tarwiyah

Mohon Maaf Lahir & Bathin...
Management PT Safana Nabilla Wisata (Safana Tour)

Ba'da Dzuhur, 10/09/2016- 08 Dzulhijjah 1437 H, Mina Al Mubarokah

Selasa, 30 Agustus 2016

Tempat-Tempat Ibadah Haji yang Membuat Merinding Hati

Ngelmu.com 23/8, Jakarta - Sebelum kita berhaji atau akan mengulangi ibadah Haji, kita tak akan bisa terlepas dengan sejumlah tempat-tempat penting Haji yang bikin hati makin merinding saat mengenalnya lebih dalam. 

Inilah tempat-tempat bersejarah dalam evolusi peradaban manusia itu.

MASJIDIL HARAM

Allah SWT menyebut Masjidil Haram dengan sebutan Baitullah. Istilah Baitullah itu tertulis dalam Al Quran sebanyak 15 kali. Allah juga menyebut masjidil Haram dengan sebutan lainnya. Semua sebutan itu intinya mengagungkan dan membesarkan arti rumah ini (Ka'bah).

Setelah periode panjang penodaan BaituLlah oleh kaum musyrikin, terjawablah doa Nabi Ibrahim AS yang Allah abadikan dalam Al-Qur’an :

“Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Qur’an) dan Al Hikmah (As Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS Albaqarah : 129)

Ribuan tahun kemudian munculah Nabi Muhammad SAW di dearah jazirah Arab. Dalam episode ini, Nabi Muhammad tidak hanya membersihkan Ka’bah dari segala kotoran, tetapi juga mengembalikan kemurnian ibadah haji sesuai tuntunan Allah SWT sejak jaman Nabi Ibrahim AS.

Allah SWT mengutus Nabi Muhammad SAW sebagai jawaban atas doa Nabi Ibrahim AS tersebut. Selama 23 tahun Nabi Muhammad SAW menyebarkan pesan Tauhid, pesan yang sama seperti yang dibawa Nabi Ibrahim AS dan semua Nabi pendahulunya, untuk menegakkan hukum Allah di muka bumi.

Terdapat perintah khusus dalam Al Qur’an yang diturunkan dalam rangka menghilangkan semua upacara palsu yang telah merajalela pada masa sebelum Islam. Semua tindakan tidak senonoh dan memalukan itu sangat dilarang sebagaimana dalam pernyatan Allah dalam Al Qur’an :

“Musim haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi. Barangsiapa menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak diperbolehkan rafats (mengeluarkan perkataan yang menimbulkan birahi yang tidak senonoh atau bersetubuh), berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji.” (QS Al Baqarah : 197)

Rasulullah SAW memerintahkan para sahabat yang mampu terutama kaum Anshar (pribumi Madinah) yang tidak dikenali oleh orang-orang Makkah, untuk menunaikan ibadah haji sesuai dengan manasik Nabi Ibrahim AS. Mereka tidak mengerjakan amalan-amalan yang berhubungan dengan penyembahan berhala.

KA'BAH

Menurut riwayat, Allah SWT memerintahkan Nabi Ibrahim untuk membangun Ka’bah pada posisi Qubah yang telah Allah turunkan kepada nabi Adam AS. 

Nabi Ibrahim tidak mengetahui posisi Qubah itu, karena Qubah tersebut telah diangkat Allah ketika terjadi peristiwa banjir besar di bumi pada masa Nabi Nuh AS. 

www.safanatour.com


Kemudian Allah mengutus malaikat Jibril untuk menunjukkan kepada Ibrahim posisi Qubah untuk tempat berdirinya Ka’bah. 

Jibril lalu datang membawa beberapa bagian untuk Ka’bah dari surga. Sementara pemuda Ismail membantu ayahandanya mengangkat batu-batu dari bukit.

Nabi Ibrahim dan Ismail bekerja sama membangun dinding Ka’bah hingga ketinggian 7 hasta. 

Jibril lalu menunjukkan kepada mereka posisi Hajar aswad. Kemudian Nabi Ibrahim meletakkan Hajar Aswad pada posisi yang ditunjukkan Jibril.

Selanjutnya Nabi Ibrahim membuatkan dua pintu ka’bah. Pintu pertama terbuka ke timur dan pintu kedua terbuka ke barat.

Ketika selesai pembangunan Ka’bah, Nabi Ibrahim dan Ismail mengerjakan ritual ibadah haji. 

Pada tanggal 8 Dzulhijjah, malaikat Jibril kembali turun menemui dan menyampaikan pesan kepada Ibrahim.  Jibril meminta Nabi Ibrahim mendistribusikan air zam zam ke beberapa tempat seperti Mina dan Arafah. Maka hari itu disebut dengan dengan hari “Tarwiyyah” (hari pendistribusian air). 

Usai pembangunan Baitullah dan pendistribusian air tersebut, maka Nabi Ibrahim berdoa kepada Allah yang tercantum dalam Al Qur’an :

”Dan (ingatlah) ketika Nabi Ibrahim berdoa : ” Ya Tuhanku. jadikanlah negeri ini negeri yang aman sentosa dan berikanlah rizki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari kemudian."

Allah berfirman : ”Dan kepada orang yang kafirpun aku beri kesenangan sementara, kemudian aku paksa ia menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali”. (QS. Al Baqarah : 126)

Sejak itu, kaum Muslimin melaksanakan ritual haji untuk berziarah ke Ka’bah setiap tahun. Ini mengikuti risalah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Ritual ini juga merupakan risalah para Nabi dan Rasul yang datang setelah keduanya.

Sejarah Ternodanya Kesucian Ka'bah

Ketika memandang Ka'bah, selain haru karena keagungan-Nya,  kaum muslimin juga selayaknya bisa membayangkan adegan sejarah di saat kaum musyrikin mengotori kesucian Ka'bah.


Sebelumnya, ritual suci Haji berlangsung terus seperti pelaksanaan yang pernah dicontohkan Ibrahim dan Ismail. Namun pada periode tokoh Makkah ‘Ammar bin Luhay, ritual haji mulai terkotori dengan kahadiran patung dan berhala.

‘Ammar bin Luhay merupakan orang yang pertama kali menyebarkan ajaran menyembah berhala di seluruh Jazirah Arab. Ia lah yang bertanggung jawab mengubah ajaran tauhid menjadi menyembah berhala. 

Sejak itu, orang-orang Arab meletakkan patung dan berhala yang mereka posisikan sebagai tuhan di sekitar Ka’bah. Sebagian kabilah Makkah bahkan berprofesi sebagai pembuat patung dan berhala.

Meski begitu, mereka tetap membolehkan kabilah atau kelompok lain menunaikan haji ke Baitullah, tanpa membedakan agama dan kepercayaan. Para pemeluk agama tauhid termasuk agama Masehi, masih terus menjalankan ritual haji ke Ka’bah. 

Saat itu, kondisi Ka’bah sangat memprihatinkan. Dindingnya dipenuhi puisi dan lukisan. Bahkan lebih dari 360 berhala terdapat di sekitar Ka’bah.


Selama periode haji itu, suasana di sekitar Ka’bah layaknya seperti arena dan atraksi sirkus. Laki-laki dan perempuan mengelilingi Ka’bah dengan telanjang. Mereka menyatakan harus menampilkan diri di hadapan Allah dalam kondisi yang sama seperti saat lahir. 

Doa mereka menjadi liar, tak lagi tulus mengingat Allah. Bahkan berubah menjadi serangkaian tepuk tangan, siulan dan bunyi tiupan terompet tanduk hewan.

Kalimat Talbiah (Labbaika Allahumma Labbaik) telah diselewengkan oleh mereka dengan kalimat tambahan yang berbeda jauh maknanya. 

Darah hewan kurban disiram dan dituangkan ke dinding Ka’bah. Daging sesembahan digantung di tiang sekitar Ka’bah. Mereka punya keyakinan bahwa Allah menuntut seserahan dalam bentuk daging dan darah. 
Padahal Allah berfirman: “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi Ketaqwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.” (QS.Al-Hajj :37)

Pada zaman itu, para peziarah bebas bernyanyi, minum arak, melakukan zina, dan perbuatan amoral lainnya. 

Lomba puisi menjadi bagian utama dari seluruh rangkaian haji. Setiap penyair akan memuji keberanian dan kemegahan sukunya. Mereka menyampaikan cerita yang berlebihan, mengungkap kepengecutan dan kebakhilan suku-suku lainnya. 

Kompetisi “pamer kebaikan" atau "Unjuk kemurahan hati” juga terjadi. Masing-masing kepala suku akan menyediakan kuali besar untuk memberi makan para peziarah. Tujuannya agar bisa dikenal sebagi tokoh yang bermurah hati.

Selama lebih dari dua ribu tahun, mereka meninggalkan, menodai dan menyelewengkan ajaran suci Nabi Ibrahim AS yang mengajak menyembah Allah semata. 

TANAH HARAM

Salah satu tempat yang menjadi lokasi adegan ritual haji yang penting dan sering disebut-sebut adalah kawasan tanah haram.

Disebut tanah haram karena memang di kawasan itu ada banyak aturan yang tidak boleh dilanggar atau haram dikerjakan.

Dalam al-Misbah al-Munir dinyatakan “Tanah haram, artinya tanah yang tidak halal untuk dilanggar.” (al-Misbah al-Munir, 2/357)

Ini sesuai dengan firman Allah, “Aku hanya diperintahkan untuk menyembah Tuhan negeri ini (Makkah) Yang telah menjadikannya suci dan kepunyaan-Nya-lah segala sesuatu, dan aku diperintahkan supaya aku termasuk orang-orang yang berserah diri” (QS. An-Naml: 91)

Dalam hadis dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan rahasia penamaan Makkah dengan Tanah Haram,
“Sesungguhnya kota ini, Allah telah memuliakannya pada hari penciptaan langit dan bumi. Dia adalah kota suci dengan dasar kemuliaan yang Allah tetapkan sampai hari Kiamat. Belum pernah Allah halalkan berperang di dalamnya, sebelumku. Dan Allah tidak halalkan bagiku untuk memerangi penduduknya, kecuali beberapa saat di waktu siang (ketika Fathu Makkah)."


Selanjutnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebutkan hukum yang berlaku, sebagai konsekuensi Allah jadikan tanah ini sebagai kota haram. Beliau bersabda, "Dia Haram dengan kemuliaan yang Allah berikan, sampai hari kiamat.  Tidak boleh dipatahkan ranting pohon-nya, tidak boleh diburu hewannya, tidak boleh diambil barang hilangnya, kecuali untuk diumumkan, dan tidak boleh dicabut rerumputan hijaunya." (HR. Bukhari  3189 & Muslim 3289)

MAS'A (Jalur SA'I)

Tempat atau lokasi lainnya yang cukup penting dalam ritual Haji adalah Mas'a yaitu jalur yang dilewati jamaah saat melakukan sa'i. 

Saat menjalani ibadah haji, kita bisa membayangkan perasaan yang berkecamuk dalam benak Siti Hajar. Kita juga memerankan aktor Siti Hajar ini sehingga bisa merasakan betapa lelah dan payahnya seorang ibu bolak-balik mencari air di dua bukit serta lembah tandus di tempat terasing.

Dalam sejarah yang diwariskan, tertulis kegelisahan kaum Anshar saat menjalankan ritual di Makkah. 

Ketika kembali dari haji, kaum Anshar melapor kepada Rasulullah SAW bahwa mereka mengerjakan sa’i dengan keraguan.

Di tengah mas’a (jalur sa’i) antara Shafa dan Marwa terdapat dua berhala besar Asaf dan Na’ilah. Oleh karena itu turunlah wahyu Allah SWT yaitu :
”Sesungguhnya Shafa dan Marwa itu sebagian dari syiar-syiar Allah. maka barangsiapa berhaji ke baitullah atau berkunjung (umrah), tidak salah baginya untuk bolak balik pada keduanya. Dan barangsiapa menambah kebaikan, maka sesungguhnya Allah Maha Pembalas Syukur lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Baqarah : 158)

Ayat inilah yang dibaca berulang-ulang para jamaah haji ketika mengerjakan Sa’i.

SHAFA

Shafa adalah bukit kecil, 130 meter sebelah Selatan Masjidil Haram. Saat ini sudah dibangun atap bulat berbentuk kubah di atas puncak bukitnya. Bukit inilah (Shafa) yang dalam syariat digunakan sebagai tempat bermulanya Sa'i.

Bukit shafa menjadi saksi banyak peristiwa penting sepanjang sejarah. Peristiwa-peristiwa penting tersebut di antaranya ialah:

Kisah Abu Lahab

Nabi Muhammad SAW pernah naik ke bukit ini dan berseru kepada orang-orang. Maka setelah orang-orang Quraisy berkumpul, Nabi lalu menyeru mereka untuk beriman kepada ke-Esa-an Allah, Risalah Kenabian, Keimanan pada Hari Akhir, serta menyampaikan ancaman akan adanya neraka.

Imam Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa ketika ayat:
"Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat" - Q.S Al-Syuara /26:214 diturunkan, Nabi Muhammad saw naik ke bukit Shafa, dan menyeru "Wahai Bani Fahr! Wahai Bani 'Addi!" dari suku Quraisy sampai mereka berkumpul. Sampai-sampai jika ada seseorang yang berhalangan, ía mengirimkan orang lain untuk memastikan apa yang terjadi, dan datang pula diantara mereka Abu Lahab dan Quraisy.

Nabi lalu berkata; "Bukankan aku telah memperlihatkan pada kalian semua, bahwasannya aku telah memberitahukan ada seseorang di lembah ini yang ingin merubah kehidupan kalian. Apakah kalian semua mempercayaiku?" Mereka serentak berucap, "Kami tidak pernah mendapatimu kecuali seorang yang jujur." Maka Nabi pun menimpalinya kembali, "Sesungguhnya aku ini seorang pemberi peringatan kepadamu dari siksa yang pedih."

Mendengar itu semua, Abu Lahab berkata, "Celakalah kau! Untuk inikah engkau mengumpulkan kami?"

Setelah itu turunlah ayat, "(Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ía usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. Dan (begitu pun) isterinya, pembawa kayu bakar. Yang di lehernya ada tali dari sabut.") (Q s. al-Lahab/ 111:5)

Kisah Bukit Emas

Dari Ibnu Abbas RA, bahwasanya ia berkata: Orang-orang Quraisy datang kepada Nabi dan berkata: "Mohonlah kepada Tuhanmu agar menjadikan bukit Shafâ ini emas bagi kami, sehingga kami akan beriman." "Apakah kalian akan melakukannya?", timpal Nabi. Lalu mereka menjawab: "Iya". 

Kata Ibnu Abbas, setelah itu Nabi memohon sehingga datanglah Malaikat Jibril sambil berkata: "Sesungguhnya Tuhanmu memberi salam kepadamu. Jika Aku menghendakinya, niscaya dijadikannya bukit Shafa itu emas buat mereka. Dan barangsiapa dari mereka ingkar setelah itu, maka Aku akan menyiksanya dengan siksa yang belum pemah Aku timpakan kepada seluruh alam raya ini. Dan jika Aku menghendaki, niscaya Aku bukakan bagi mereka pintu taubat dan rahmat." Lalu Nabi Menjawab: "Aku ingin pintu taubat dan rahmat". 

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa saat itulah turun ayat, ("Dan sekali-kali tidak ada yang menghalangi Kami untuk mengirimkan (kepadamu) tanda-tanda (kekuasaan Kami), melainkan karena tanda-tanda itu telah didustakan oleh orang-orang dahulu") (Qs. al-Isro/17:59)

Balasan Perilaku Abu Jahal

Suatu ketika, Abu Jahal berjalan di Shafa melewati Nabi Muhammad saw lalu menyakiti dan memukul kepala beliau dengan batu hingga terluka dan mengeluarkan darah. Ketika Hamzah ibn Abdul Muthalib mengetahui hal itu, ia langsung mendatangi Abu Jahal yang ketika itu sedang berada di Nadi (tempat perkumpulan) Quraisy di dekat Ka'bah. "Bagaimana engkau mengumpat keponakanku sementara aku berada dalam agamanya?" kata Hamzah. Kemudian ia memukul Abu Jabal dengan busur panah hingga menyebabkan luka yang cukup parah.

Titik Kumpul Pembebasan Makkah

Setelah dakwah Islam berhasil, Nabi kembali ke Makkah untuk membebaskan kota itu, dan menyuruh Khalid ibn Walid beserta orang-orang yang bersamanya agar masuk melalui dataran rendah Mekah, sehingga akhirnya mereka berkumpul di Shafa. Menyaksikan hal itu, Nabi pun berkata, "tempat kumpul kalian ialah Shafa".

Tempat Berdoa Rasulullah SAW

Setelah pembebasan Mekah, Rasulullah mencium Hajar Aswad, lalu thawaf di sekeliling Ka'bah. Selesai menunaikan thawaf, beliau langsung menuju Shafa dan naik ke atas bukit tersebut hingga melihat Kabah, kemudian mengangkat kedua tangan beliau, memuji Nama Allah dan berdo'a tentang apa saja.

Pemberian Maaf dan Pernyataan Keamanan

Nabi sedang berdiri di atas bukit shafa, dan datanglah kaum Anshar dengan mengelilingi bukit tersebut. Rasulullah lalu bersabda: "Barangsiapa masuk ke rumah Abu Sufyan, maka amanlah dia. Barangsiapa meletakkan senjatanya, amanlah dia. Dan barangsiapa menutup pintu rumahnya, maka amanlah dia". 

Kemudian orang-orang Anshar bilang, lelaki ini telah bersikap lembut kepada keluarganya dan mencintai kampung halamannya, maka apakah ía akan menetap di dalamnya. Setelah itu, Rasulullah SAW menimpalinya, "apakah yang kalian katakan tadi?". Rasulullah pun diberitahu oleh orang-orang Anshar terebut, dan dijawab Rasulullah dengan berkata, "Aku berlindung kepada Allah. Kehidupan ini ialah kehidupan kalian, dan kematian itu ialah juga kematian kalian."

Masuk Islam

Bukit Shafa menjadi saksi bahwa orang-orang yang dahulunya ikut mengusir, menyakiti dan memerangi Nabi ketika di Makkah, mereka berkumpul di sekitar Shafã untuk berbai'at masuk Islam, mengakui tauhid dan risalah yang dibawa Rasulullah.

Ketika Hindun (istri Abu Sufyan) datang bersama rombongan kaum perempuan dari Quraisy untuk berbai'at masuk Islam, Nabi saat itu sedang berada di atas bukit Shafa, dan Umar bin khattab yang mengajari mereka tentang Islam. 

Ketika diajarkan bahwa hendaknya mereka tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, Hindun menimpali, "Aku sudah tahu kalau Allah memiliki sekutu selain-Nya, maka tidak akan membutuhkan kita". Kemudian, ketika diajarkan bahwa hendaknya mereka tidak mencuri, Hindun berkata lagi, "Mungkinkah seorang yang bebas akan mencuri?". 

Lalu, ketika diajarkan bahwa hendaknya mereka jangan berbuat zina, lagi-lagi ia menimpalinya, "apakah ada orang yang bebas akan berbuat zina, wahai Rasulullah?". 

Sementara ketika diajarkan bahwa hendaknya mereka tidak mengingkari kebaikan, barulah Hindun mengatakan, "Demi bapak dan ibumu, sungguh sangat mulia dan baiknya apa yang engkau serukan itu."

Tempat Munculnya Tanda-tanda Kiamat

Allah berfirman, ("Dan apabila perkataan telah jatuh atas mereka, Kami keluarkan sejenis binatang melata dari burni yang akan mengatakan kepada mereka, bahwa sesunggulmya manusia dahulu tidak yakin kepada ayat-ayat Kami") (QS An-Naml/27:82) Dan Nabi Muhammad bersabda, "Bersegeralah dalam bekerja sebelum terbitnya matahari hingga terbenamnya, dan sebelum datangnya Dajjal dan binatang-binatang melata."

Ada perbedaan pendapat mengenai dari mana keluarnya? Ada yang mengatakan keluar dari bukit Shafa di Makah, ada pula yang mengatakan dari Bukit Abu Qubais. Dan ada juga yang berpendapat keluarnya dari Masjid paling besar, paling agung, dan paling mulia. Sementara ada pula yang berpendapat lain.

JIka dicari titik temunya, bahwa bukit Shafa berasal dari bukit Abi Qubais dan berada di Masjid paling mulia, yaitu Masjidil Haram.

MARWA

Bukit Marwa berada di Kota Makkah di samping Bukit Qa’aiqa’ah. Jarak antara bukit Shafa dan Marwa 394,5 meter dan kini lintasannya telah diperlebar hingga 20 meter. Tinggi tembok lantai bawah mencapai 11,75 meter sementara tembok lantai atas tingginya 8,5 meter.

Saat perluasan Masjidil Haram yang baru, di antara Bukit Shafa dan Marwa ini dibuat saluran air Sehingga air dapat mengalir di antara masjid dan bukit.

ARAFAH

Yang bikin kita merinding memandang "wajah" padang Arafah adalah karena mirip potret miniaturnya padang mahsyar. Arafah laksana padang uji coba berada di hamparan pengadilan dan hisab yang bisa kita "cicipi" di muka bumi. 

www.safanatour.com


Lokasi padang pasir yang tak berpenghuni ini terletak 25 km sebelah timur kota Makkah. Hamparan setengah lingkaran yang dikelilingi bukit-bukit batu inilah yang disesaki muslim dunia pada tanggal 9 Dzulhijjah untuk melakukan wuquf. 

Setelah tergelincirnya matahari, setiap jamaah haji berupaya keras memanjatkan doa dan harapannya pada Ilahi. Do'a yang Allah janjikan tanpa penghalang saat dipanjatkan. 
Sekitar tiga juta jamaah haji memadati padang Arafah tapi setiap individu tenggelam dengan urusan keselamatannya masing-masing. Setiap diri tenggelam dalam khusyuk penyesalannya masing-masing, meski berada di tengah hiruk pikuk sesaknya padang Arafah.

Wuquf adalah rukun Haji, tidak sah siapa yang berhaji yang tidak melewatkan waktu sedikitpun di padang Arafah siang itu. 

Rasulullah SAW mengatakan, "Haji itu hadir di Arafah. Barangsiapa yang datang pada malam tanggal 10 Dzulhijah sebelum terbit fajar, sesungguhnya ia masih mendapatkan haji" (diriwayatkan oleh lima perawi hadits utama).

Keutamaan Arafah menurut hadits Nabi, "Doa yang paling afdhal adalah doa di hari Arafah’. Dalam riwayat lain Nabi mengatakan, ‘Tidak ada hari yang paling banyak Allah menentukan pembebasan hamba-Nya dari neraka kecuali hari Arafah".

Di padang pasir ini terdapat sebuah bukit bernama Jabal Rahmah. Di atas bukit batu ini terdapat tugu putih yang dibangun untuk mengenang peristiwa sangat penting bagi umat manusia. 

Peristiwa pertemuan dua nenek moyang manusia yang sangat mengharukan antara Nabi Adam dan Siti Hawa. Menurut berbagai riwayat, keduanya bertemu setelah turun dari syurga dan dipisahkan oleh Allah SWT selama 200 tahun.

Di sini pula tempat turun wahyu Allah SWT yang terakhir kepada Nabi Muhammad SAW yang tercantum dalam Al-Quran surat Al-Maidah ayat 3 yang artinya, "Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu".

“Tidak ada satu hari yg lebih banyak Allah memerdekakan hamba dari neraka pd hari itu daripada hari Arafah. Dan sesungguhnya Allah mendekat, kemudian Dia membanggakan mereka (yg berkumpul di Arafah) kepada para malaikat. (Lihatlah wahai para malaikatKu) Apa yg dikehendaki oleh mereka ini" (HR. Muslim, no. 1348; dan lainnya dari 'Aisyah)

Allah membanggakan ahli Arafah (orang-orang yang wuquf di sana) di hadapan penghuni langit (malaikat) ”Sesungguhnya Allah SWT membanggakan ahli ’Arafah di hadapan penduduk langit” (HR. Ahmad, shahih Al-Albani) 

Arafah, adalah hari di mana Allah SWT menyempurnakan agama ini.

Umar bin al-Khaththab RA berkata: ”Sesungguhnya salah seorang laki-laki Yahudi berkata: "Wahai Amirul Mukminin, satu ayat dalam kitab kalian yg kalian baca, seandainya ayat itu turun kepada kami (orang-orang Yahudi) maka sungguh akan kami jadikan hari itu sebagai hari raya" 

Umar berkata: "Ayat apa itu?" Dia membaca firman Allah: ”Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu.” (QS. Al-Maaidah: 3) 

Umar RA berkata: ”Sungguh aku tahu hari itu, hari yg di dalamnya diturunkan kepada Rasulullah SAW dalam keadaan beliau berada di hari Arafah dan bertepatan dengan hari jum’at".

"Dia adalah hari raya bagi orang yang wuquf ”Hari Arafah, Hari Nahar (menyembelih), dan Hari-Hari Mina (tasyriq) adalah hari raya kita umat Islam.”(HR. Abu Dawud shahih Al-Albani) 

Doa yang dipanjatkan pada hari Arafah adalah seagung-agungnya doa. ”Sebaik-baik do’a adalah do’a pada hari Arafah.” (Dishahihkan oleh Al-Albani dalam kitab Silsilah Ash-Shahihah) 

Sementara di berbagai belahan bumi lainnya, jutaan kaum muslimin menjalankan puasa Arafah.

Puasa Arafah ”Menghapus dosa tahun lalu dan tahun yg akan datang” (HR. Muslim).  

Rasulullah SAW bersabda “Puasa satu Hari Arafah (tanggal 9 Dzulhijjah), aku berharap kepada Allah, Dia akan menghapuskan (dosa) satu tahun sebelumnya dan satu tahun setelahnya. Puasa hari Asyura (tanggal 10 Muharram), aku berharap kepada Allah, Dia akan menghapuskan (dosa) satu tahun sebelumnya” (HR. Muslim, no 1162, dari Abu Qatadah).

MASYA'R

Usai memanjatkan do'a, menyesali segala khilaf dan dosa serta merenungi semua perjalan hidup dan berkomitmen tentang waktu di masa datang, para jama'ah Haji harus segala meninggalkan Arafah.

Menjelang terbenamnya matahari Arafah, Kerumunan itu akan bergeser menuju Masy'ar. Jabal Rahmah dan padang Arafah yang sebelumnya dipenuhi jamaah putih, kini mulai sepi ditinggalkan tamunya. Arafah kembali sunyi seperti ratusan hari sebelumnya, sementara semua bergegas menuju Masy'ar.

Di lokasi antara Arafah dan Mina, di sinilah Masy'ar terletak. Di sanalah jamaah Haji bermalam. Semua bersiap mengumpulkan peluru-peluru yang akan dilontarkan kepada musuh-musuh Allah dan manusia. 

Di Masy'ar, di tanah yang diharamkan bahkan meski hanya mencabut rumput atau membunuh seekor semut ini, semua bermalam menunggu datangnya Fajar.

MINA

Lokasi yang bernama Mina juga merupakan tempat yang cukup sentral dalam ibadah haji. 

Para jamaah Haji akan meresapi berbagai pertunjukkan sejarah akbar legendaris yang pernah terjadi di Mina.

Setelah sampai di tanah Mina, Nabi Ibrahim berkata kepada putranya, sebagaimana yang diabadikan Al-Qur’an di Surah Ash-Shaffat penggalan ayat 102: "Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka pikirkanlah apa pendapatmu."

Saat itu Nabi Ibrahim meminta pendapat Nabi Ismail menyikapi mimpi tersebut. Mimpi seorang Nabi adalah haq dan benar, apakah Nabi Ismail bisa bersabar atau ia meminta maaf sebelum dilaksanakan penyembelihan. 

Ini merupakan ujian bagi Nabi Ibrahim maupun Nabi Ismail.

Nabi Ismail lalu menjawab sesuai yang termaktub dalam Al-Qur’an Surah Ash-Shoffat penggalan ayat 102: "Wahai ayahku, lakukan apa yang diperintahkan kepadamu, InsyaAllah engkau akan menemuiku termasuk orang-orang yang sabar."

Ketika Nabi Ibrahim mendengar jawaban itu, beliau menyadari bahwa Allah telah mengabulkan do’anya, sesuai yang tertulis dalam Surah Ash-Shoffat ayat 100: "Ya Tuhanku, anugerahkan kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang shalih."

Kemudian beliau memuji Allah. Kemudian Nabi Ismail berkata,
“Wahai ayahku, aku berwasiat kepadamu beberapa perkara. Ikatlah tanganku dengan kencang agar aku tidak goyah karena itu akan menyakitkanku. Letakkan wajahku di atas bumi agar engkau tidak memandangku sehingga engkau merasa kasihan. Tutuplah pakaianmu dariku agar darahku tidak mengotorinya sehingga ibuku tidak melihatnya, karena itu akan membuatnya sedih. Tajamkanlah bilah pisau besarmu dan percepatlah dalam menyembelih leherku agar terasa lebih ringan karena sesungguhnya kematian itu sangat menyakitkan. Berikanlah pakaianku kepada ibuku sebagai pengingat diriku. Sampaikan salam dariku dan katakan padanya “bersabarlah atas perintah Allah”. 

"Jangan engkau ceritakan pada ibuku bagaimana engkau menyembelih dan mengikat tanganku. Jangan engkau membawa bocah kepada ibuku agar ia tidak semakin bersedih. Jika engkau melihat seorang bocah sepertiku, maka jangan engkau terus memandanginya sampai engkau bersedih.” 

Nabi Ibrahim berkata “Baiklah, semoga pertolongan selalu menyertaimu atas perintah Allah, wahai anakku!”.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an Surah Ash-Shoffat ayat 103: "Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipisnya"

Nabi Ibrahim membaringkan Nabi Ismail seperti layaknya kambing yang akan disembelih. Kejadian itu terjadi di atas batu besar di Tanah Mina. 

Nabi Ibrahim meletakkan pisau besarnya di leher Nabi Ismail. Ibrahim menyembelih leher putranya dengan kuat, akan tetapi atas kehendak Allah pisau tersebut tak mampu memotong leher Nabi Ismail bahkan menggoresnya pun tidak. 

Allah membuka tabir penutup mata para malaikat langit dan bumi, sehingga mereka mengetahui kejadian tersebut. Kemudian para malaikat berlutut dan bersujud kepada Allah. 

Kemudian Allah berkata “Lihatlah kalian semua kepada hambaku bagaimana ia menebaskan pisau besar pada leher anaknya karena hanya mengharap ridha-Ku, sedangkan kalian berkata ketika aku berkata:
Allah berfirman, Sesungguhnya Aku akan menjadikan seorang khalifah di atas bumi. [Malaikat berkata] Mengapa Engkau akan menjadikan di bumi orang yang akan berbuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami selalu bertasbih dengan memuji-Mu dan mensucikan-Mu."

Nabi Ismail berkata “Wahai ayahku, engkau telah melemahkan kekuatanmu karena cinta kepadaku sehingga engkau tidak kuasa untuk menyembelihku”. 

Kemudian Nabi Ibrahim menebaskan pisau besarnya pada batu dan batu tersebut terbelah menjadi dua. Nabi Ibrahim berkata terheran-heran “Pisau ini bisa memotong batu tetapi tidak bisa memotong daging”. 

Atas kuasa Allah, pisau tersebut berkata “Wahai Ibrahim, kamu mengatakan potonglah, tetapi Tuhan semesta alam berkata jangan potong. Maka bagaimana aku melaksanakan perintahmu yang berlawanan dengan perintah Tuhanmu”.
Pisau tersebut tidak dapat memotong leher Nabi Ismail karena Allah telah memerintahkan untuk tidak memotongnya walaupun Nabi Ibrahim berkata potonglah.

Allah berfirman dalam Surah Ash-Shoffat ayat 104-106:
"Dan Kami panggil dia, "Wahai Ibrahim” (104) 
Sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpimu itu, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik (105) 
Sesungguhnya ini benar-benar ujian yang nyata (106)"

Semua kejadian tersebut merupakan ujian yang telah diberikan Allah kepada Nabi Ibrahim. Kemudian Allah berfirman dalam Surah Ash-Shoffat ayat 107 :
"Dan Kami tebus (ganti) anak itu dengan seekor sembelihan yang besar."

Malaikat Jibril pun datang dengan membawa seekor domba yang besar. Domba tersebut merupakan domba qurban Habil putra Nabi Adam yang masih hidup dalam syurga. Kemudian domba tersebut dijadikan tebusan atau ganti Nabi Ismail. 

Malaikat Jibril yang datang dan melihat Nabi Ibrahim berusaha memotong leher putra beliau. Dengan rasa ta’dhim (hormat) dan terheran atas Nabi Ibrahim, Malaikat Jibril berkata:

"Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar."
Kemudian Nabi Ibrahim menjawab:
"Tidak ada tuhan (yang hak untuk disembah) kecuali Allah, dan Allah Maha Besar."
Nabi Ismail pun mengikuti:
"Allah Maha Besar dan segala puji hanya bagi Allah"

Allah telah mejadikan kebaikan atas kalimat-kalimat tersebut. Kalimat-kalimat tersebut senantiasa berkumandang dan bergema dari kalangan muslimin dari penjuru dunia saat 10 Dzulhijjah yaitu hari raya idul adha. 

Imam Hanafi berkata bahwa jika seseorang bernadzar (berjanji pada diri sendiri) untuk menyembelih anaknya, maka hendaklah ia menggantinya dengan seekor kambing atau domba.

Kisah ini diambil dari Kitab Durratun Nashihin karangan Syekh Ustman bin Hasan bin Ahmad Asy-Syakiri Al-Khoubawi, Hal. 179-181.
(Firtra Ratory dari berbagai sumber)